Jumat, 29 Mei 2009

AS Menyalahgunakan Ayat Al Kitab Untuk Misi Perang Melawan Teror

WASHINGTON (Arrahmah.com) - Para pemuka agama telah mengecam mantan-mantan pejabat tinggi AS yang telah memanipulasi isi Al Kitabnya untuk kepentingan kampanye 'anti-teror' mereka.

Mantan-mantan pejabat itu telah mengutip ayat-ayat Injil di luar dugaan dalam laporan tertentu yang akan diajukan sebagai pertimbangan tambahan, seperti yang dipalorkan dalam Los Angeles Times edisi Senin (25/5).

Minggu lalu, wartawan dan pengumpul data mantan pejabat pemerintahan, Robert Draper memperlihatkan laporan 2003 yang ditujukan pada mantan sekretaris keamanan Donald Rumsfeeld sebelum dikirim ke mantan presiden George W. Bush.

Dokumen tersebut dilengkapi dengan gambar para tentara yang ada di bawah ketaatan dan dihiasi dengan gambar para tentara dan juga memuat banyak bagian dari Injil yang disalahgunakan.

Sebuah gambar yang dipakai sebagai sampul salah satu laporan tersebut memiliki keterangan "Untuk siapa Aku dikirim dan siapa yang akan pergi mengambil kita? Inilah Aku, Tuhan. Kirimlah aku." dari kitab Isaiah dalam Perjanjian Lama.

"Sebagai orang Kristen, saya sangat bermasalah dengan.... sebuah ayat mengenai seruan nabi mengangkat hambanya sendiri dari ketidaksetiaan ... namun malah dipakai sebagai seruan besar AS untuk menyerang Irak," ungkap Scott Alexander, direktur Program Studi Muslim-Katolik dalam Persatuan Teologi Katolik Chicago, yang dikutip oleh harian Los Angeles.

"Apa yang ada dalam isu adalah kemungkinan memaksakan konteks terhadap teks Al Kitab untuk meng-agamis-kan misi militer AS," tambah dia.

"Ayat yang ada dalam sampul laporan lain berbunyi "tempatkanlah para tentara Tuhan" - yang dalam kitab Perjanjian Baru berarti seruan agar para pemeluknya memperkuat diri mereka sendiri dengan memihak kebenaran, keadilan, dan kedamaian."

"Semua ini benar-benar penyalahgunaan Al Kitab untuk memaksakan suatu konteks dan membenarkan salah satu pihak untuk menyerang yang lainnya," tegas Rev. John Buchanan, pastur salah satu gereja di Chicago. (Althaf/ptv/arrahmah.com)

Senin, 25 Mei 2009

Bentrokan Saat Demo Penyobekan Al Quran di Yunani

Bentrokan terjadi saat para demonstran yang sebagaian besar adalah umat muslim dengan polisi di ibukota Yunani Athena.

Sekitar 1.000 lebih pengunjuk rasa memadati jalanan Athena hari Jum'at 22 Mei setelah seorang polisi dikabarkan melakukan penistaan terhadap kitab suci umat Islam, Al Quran. Seorang polisi diberitakan menyobek-nyobek Al Quran yang dibawa seorang imigran asal Irak saat melakukan pemeriksaan identitas.

Polisi Yunani yang membabi buta menembakan gas air mata ke arah demonstran di sekitar parlemen Yunani.

Aksi unjuk rasa ini merupakan kali ke dua terhadap tindakan sombong polisi Yunani menyobek-nyobek Al Quran.

Para demonstran berbaris di jalanan kota Athena sambil memekikkan takbir "Allahu Akbar" dan membawa berbagai poster agar penduduk Yunani menghormati Islam dan umat Islam.

"Kami ingin petugas atau pejabat yang terlibat untuk segera diajukan ke pengadilan dan pemerintah mengeluarkan permintaan maaf," kata Manala Mohamed, seorang berkebangsaan Syiria yang mengkuti demonstrasi kepada wartawan AP.

"Kami ingin para warga menghormati kami."

Unjuk rasa yang dilakukan di sekitar lapangan Omonia ini melibatkan para imigran dan organisasi anti rasisme.

Sebelumnya, pada hari Rabu 20 Mei juga sempat terjadi bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa, pada demonstrasi yang pertama.

Beberapa kali sempat terjadi bentrok antara para imigran muslim dengan beberapa kelompok kanan Yunani yang membenci kedatangan mereka. (muslimdaily.net/dkr/aljzr)

Jahanam Israel Ciptakan Gempa, Siap Musnahkan Masjid Al Aqsa

YERUSALEM TERJAJAH – Para ahli memperingatkan tentang adanya skema dari kaum Zionis untuk menciptakan ulang sebuah gempa buatan yang dirancang untuk merobohkan masjid Al Aqsa. Para ahli menekankan bahwa Israel sudah mengungkapkan rencananya tersebut di televisi dan artikel surat kabar yang tidak terhitung jumlahnya mengenai penghancuran Al Aqsa dengan cara menciptakan gempa buatan.

Dalam rencananya, Israel akan menciptakan gempa buatan melalui penanaman bom di sebelah barat Negev, di sebuah laut di Eilat, kemudian orang-orang akan merasakan getaran dari ledakan tersebut, lalu para ilmuwan memberikan keterangan, sementara Israel menyatakan bahwa ada “gempa bumi” melanda daerah tersebut dan menyebabkan atap-atap bangunan menjadi runtuh.

Para ahli menambahkan: “Ada kemungkinan Israel mempergunakan jalur terowongan lebih banyak daripada menggunakan jet F-16 untuk menembus tembok suara masjid tersebut yang dihancurkan oleh serangan penjajahan.

Israel sekarang meningkatkan pengalian dan pembangunan terowongan dibawah masjid Al Aqsa dengan tujuan utama yang sangat jahat, yaitu agar fondasi Al Aqsa menjadi rapuh dan setiap saat siap runtuh,” Ditekankan bahwa gempa/getaran sekecil apapun akan sedikit menenggelamkan masjid.

Ditambahkan lagi, bahwa Israel tidak akan menunggu hingga terjadi gempa bumi sungguhan, untuk mempercepat proses penghancuran Al Aqsa, Israel sudah merancang gempa bumi buatan dan untuk segera menghancurkan masjid Al Aqsa, dengan mengambil kesempatan ditengah lemahnya persatuan bangsa Arab dan diamnya mereka terhadap penggalian yang dilakukan oleh tangan-tangan terkutuk Yahudi Israel di kompleks Al Aqsa.

Para ahli memandang penggalian di sekitar kompleks masjid Al Aqsa tersebut sebagai skema licik Israel untuk melenyapkan Al Aqsa, yang merupakan tempat suci ketiga bagi umat Muslim.

Ruang hampa yang dibuat dibawah masjid ditambah dengan fondasi yang semakin rapuh ditambah lagi dengan pengalian pasir dan batu semakin menunjukkan bukti nyata bahwa Al Aqsa tengah dalam kondisi genting.

Israel mempergunakan bahan kimia untuk melelehkan batu-batu dan juga bahan peledak dalam jumlah besar, keduanya kemudian dimaksimalkan oleh ledakan yang ditimbulkan oleh guncangan dan ledakan sekecil apapun. Walaupun demikian, hampir bisa dipastikan bahwa Israel akan menggunakan kekuatan maksimum agar struktur bangunan masjid ikut hancur berkeping-keping.

Tahapan pertama proses penggalian masjid Al Aqsa sudah dimulai setelah perang tahun 1967, dengan pembantaian da pemusnahan orang-orang Maroko yang tinggal berdekatan dengan tembok ratapan di sisi barat masjid Al Aqsa, dan pembuatan gerbang masuk Mughrabi sebagai jalan dari tikus-tikus kelaparan Yahudi yang terdiri dari para serdadu penjajah, dan juga para kaum Yahudi pindahan menuju kompleks masjid.

Setelah melakukan penjajahan, Israel langsung melakukan penggaliandibawah masjid Al Aqsa untuk “mencari kuil Yahudi”.

Kaum Yahudi sangat ingin segera menjalankan skema penghancuran masjid Al Aqsa, dan nantinya seluruh umat Muslim. Ini bukan lagi sekedar peringatan dan tulisan dalam artikel, yang paling gawat adalah konspirasi yang diciptakan Israel dalam sejarah, Israel juga mengklaim bahwa penerapan rencana besar Yahudi tersebut sebagai hal yang paling penting.

Selain itu, Israel juga dengan lancang membangun puluhan sinagog mengelilingi masjid Al Aqsa sinagog-sinagog tersebut semuanya dibangun diatas tanah wakaf dan real estate milik bangsa Arab dan juga wilayah bersejarah warisan umat Muslim, dan tidak ada upaya apapun yang mampu dilakukan umat Muslim untuk mempertahankannya.

Sheikh Ra’ed Salah, kepala Gerakan Islam untuk tanah terjajah 1948, menyerukan kepada dunia Arab dan Islam untuk menandai tanggal 7 Juni, hari jatuhnya Yerusalem pada tahun 1967, sebagai saat untuk mendukung kota terjajah Yerusalem dan juga Masjid Aqsa.

Komite pembangunan ulang dari Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu, memperingatkan bahwa penggalian yang dijalankan oleh Israel di bagian Timur Yerusalem merupakan sebuah ancaman besar bagi Islam dan keagamaan Arab dan kawasan historis khususnya Masjid Aqsa yang mungkin bisa roboh oleh gempa buatan ataupun gempa alami.

Ra’if Najm, kepala deputi dari komite tersebut, menyatakan dalam pers bahwa tujuan dari penggalian tersebut, seperti yang dikatakan arkeolog Israel, adalah untuk mencari tanda-tanda dari dugaan-adanya kuil Solomon, menambahkan bahwa jika kebohongan ini tidak disanggah, dunia akan mempercayainya.

Najm menggarisbawahi bahwa jumlah penggalian ini berjumlah mencapai lebih dari 60 terowongan, yang paling serius adalah terowongan bagian barat Masjid Aqsa yang terdiri dari dua lantai dan ruangan-ruangan bawah tanah.

Sheikh Salah membenarkan bahwa pemerintah penjajah Israel ingin menyingkirkan setiap bentuk kedaulatan Muslim, Arab, atau Palestina di Masjid Al-Aqsa kemudian mencoba untuk melumpuhkan pemeliharaan Masjid Aqsa hingga akhirnya merobohkannya dengan paksa. (dn/im/sm/smedia)

Jangan Bunuh Guntur!

Oleh: Riyadi Banyu Basri

Anak manusia bernama Guntur Muhammad Romli memang fenomenal. Setelah sukses bertahan hidup dari gebukan bambu kelompok Muslim yang menolak nabi palsu bernama Mirza Ghulam Ahmad, Guntur jadi semakin cerdas. Pukulan tongkat bambu di kepalanya rupanya justru membuat isinya jadi lebih encer.

Kali ini, dia sukses menyelaraskan bahasa sebuah buku hebat berjudul “Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia.” Buku yang memuat hasil penelitian para peneliti dari UIN di seluruh Indonesia yang dijamin pasti objektif, lurus dan tanpa bias kepentingan.

Buku ini lumayan tebal, 300-an halaman, masih lebih tipis daripada masterpiece beberapa peneliti Wahid Institute yang berjudul “Negara Tuhan.” Buku yang dibanggakan penulisnya setara dengan Alfiyah Imam Malik dari sisi halamannya, karena mencapai 1000-an halaman.

Meski Ilusi lebih tipis dari Negara Tuhan, keduanya sama-sama dikebut atas pesanan guna memperlancar perang Amerika di Indonesia. Bedanya, buku Guntur ini lebih ringkas dan digratiskan sebagai e-book. Sebuah langkah agar tak menemui nasib seperti Negara Tuhan, menumpuk sampai bulukan di Toko Buku Toga Mas Yogya.

Ada lagi bukti lain makin encernya otak Guntur. Dalam buku itu, semua gerakan Islam yang dituding sebagai “transnasional,” alias datang dan berkembang dari luar Indonesia dianggap sebagai ancaman bagi kesatuan bangsa, Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menggandeng NU dan Muhammadiyah, diwakili oleh dua tokohnya: Gus Dur dan Syafii Maarif, buku Guntur itu seolah berusaha merapatkan barisan melawan kelompok seperti PKS, JI, HTI dan Salafi.

Ini adalah langkah maju, setelah sebelumnya Guntur gagal melakukan advokasi pada Ahmadiyah dan nabi palsunya dengan membawa-bawa nama Banser dan NU. SKB yang membatasi kegiatan dan penyebaran ajaran Ahmadiyah akhirnya tetap keluar. Tapi Guntur berhasil meraih posisi sebagai pembela Ahmadiyah dan seluruh kaum minoritas yang merasa terancam oleh perkembangan gerakan-gerakan Islam. Sebelumnya posisi itu banyak diperankan oleh Gus Dur.

Andai saja darah biru NU mengalir di tubuhnya, niscaya Guntur bisa menggantikan posisi Gus Dur yang kini tak punya banyak energi, dibatasi sakit dan dihancurkan intrik-intrik internal di PKB. Terakhir, orang kepercayaan Gus Dur yang dikabarkan hendak jadi menantunya, Sigid Haryo Wibisono, justru meringkuk sebagai pesakitan. Sigid jadi tersangka pembunuhan Nasrudin Abdullah yang menyeret juga nama Ketua KPK nonaktif Antasari Azhar. Sayang, kasta berbicara, maka Guntur pun hanya punya peluang muncul dengan modal keenceran otak dan kenekadan nyali.

Wahib Baru?

Dua modal itu mengingatkan orang pada Ahmad Wahib. Anak Madura yang sempat nyantri di pesantren tapi kemudian diasuh oleh para romo Katholik di Asrama Realino Gejayan, Yogya. Wahib menggoreskan banyak kegundahannya terhadap Islam di Indonesia dalam catatan hariannya.. Barangkali mumet karena kebanyakan ilmu, ilmu pesantren dan ilmu Realino, coretan Wahib menyiratkan kebingungan dan keraguan terhadap Islam.

Kemudian Wahib mencari nafkah di Jakarta, menjadi reporter di Majalah Tempo. Di sana ia nyantri lagi pada Goenawan Mohammad yang kini menjadi bapak asuh bagi Guntur dan teman-temannya dari JIL. Goenawan juga yang membela dan mencak-mencak ketika Guntur digebuki karena ngotot membela nabi palsu Ahmadiyah.

Kembali ke Wahib, suatu malam ketika ia keluar dari kantor Tempo, ia ditabrak lari hingga tewas. Kasusnya misterius. Riwayat hidupnya tamat, tapi riwayat catatan hariannya justru baru dimulai. Semua keraguannya tentang Islam dibingkai indah oleh Djohan Effendi, orang Ahmadiyah yang sempat menjadi Litbang Depag dan menjadi Mensesneg kabinet Gus Dur.

Maka jadilah Wahib seorang martir yang dipuja-puja oleh generasi muda liberal. Bukunya seolah menjadi kitab suci bagi mereka yang ingin belajar meragukan Islam. Orang tak harus repot-repot nyantri di pesantren dan belajar dari para romo untuk bisa pusing dan bingung seperti Wahib. Catatan hariannya sangat membantu menciptakan kepusingan dan kebingungan.

Dari kasus Wahib orang kemudian mengenal sebuah model penciptaan martir. Cari kader yang muda dan berani untuk menyuarakan hal-hal yang tabu, kemudian bunuh dia. Maka seorang martir akan lahir untuk dipuja dan sebuah kitab suci baru akan lahir. Jadilah Wahib semacam nabi baru bagi orang-orang liberal.

Kini Guntur menjalani pola sejarah yang sama. Dia muda, otaknya encer karena digebuki dan nyalinya tinggi karena dikawal bodyguard bercelurit. Dia juga didukung para sesepuh liberal dan jaringan mereka yang tersebar di UIN-UIN seluruh Indonesia.

Tapi kini dia dihadapkan pada banyak kelompok yang ia tuding sebagai preman berjubah. Orang-orang Islam yang siap membunuh kalau keyakinan mereka dilecehkan. Mereka yang ditudingnya punya kaitan dengan gerakan teroris radikal fundamentalis di seluruh dunia. Posisi Guntur menjadi begitu strategis untuk sebuah operasi silet yang bermata dua.

Jika Guntur dibunuh, maka yang dituduh melakukannya pasti orang-orang yang ia serang dalam bukunya. Operasi menangkapi teroris yang akhir-akhir ini sepi bisa dikembangkan dengan menangkapi aktivis Islam yang sudah ditunjuk hidungnya dalam buku Guntur. Itu mata silet yang pertama.

Yang kedua, Guntur akan naik maqom-nya menjadi martir. Ia akan berkumpul di surga perennial bersama Ahmad Wahib, Cak Nur, Mahatma Gandhi, Bunda Theresa dan orang-orang terbaik di dunia itu. Surga yang terbuka pintunya bagi siapa saja, tak peduli apa agamanya. Sementara tulisan-tulisan Guntur dan bukunya akan naik derajat menjadi kitab suci baru.

Bagi kekuatan yang selama ini mendanai dan memberi ruang menulis bagi Guntur, dua hal itu pasti sangat menguntungkan. Membuat Guntur menjadi martir sangat mudah, di Jakarta Nasrudin bisa didor oleh orang bayaran berhonor 30 juta. Tentu biaya ini murah, lebih murah daripada membiayai JIL dengan beragam kegiatan dan medianya.

Bagi Guntur sendiri, pilihan masih ada. Dia bisa berhenti dari perjuangan liberalnya dan membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama anak bangsa. Atau dia memilih jalan terus dengan peluang terbunuh menjadi martir. Maka ia akan terjerumus seperti Osama bin Laden dan Taliban yang dianggapnya sebagai fundamentalis, radikal dan teroris. Padahal, meski jalannya sama-sama mati sebagai martir, jurusan surganya akan berbeda.

Sementara bagi kelompok yang diserang Guntur dalam bukunya, skenario silet itu akan merepotkan mereka. Akan lebih bijak jika mereka biarkan saja Guntur dan bukunya lenyap sendiri. Pada dasarnya bangsa Indonesia tak menyukai orang-orang yang terlalu pede dan suka menuding-nuding orang lain.

Apalagi keenceran otak Guntur membuatnya meluncurkan buku itu menjelang pemilihan presiden. Padahal di dalamnya banyak serangan bagi PKS yang kini berkoalisi dengan SBY, capres terkuat saat ini. Orang dengan mudah akan menganggapnya sebagai black campaign, nilai ilmiahnya akan dicuekin dan derajatnya akan dianggap sama dengan isu-isu politik lainnya. Setara dengan isu bahwa SBY pernah menikah sebelum masuk AKABRI, isu bahwa Gus Dur pernah selingkuh dengan Aryanti dan isu bahwa Syafii Maarif adalah seorang agen Freemasonry.

Jadi, untuk kelompok-kelompok yang anti nabi palsu dan nabi baru, cermatilah situasi. Jangan sampai kemarahan dan sikap gegabah mendorong mereka menciptakan nabi dan kitab suci baru. Bagaimana caranya? Tahan diri, pilih langkah cerdas, jangan bunuh Guntur!

Serangan Flu Babi Menginfeksi Tentara-tentara Amerika di Kuwait

Beberapa prajurit AS telah dikonfirmasi menjadi korban serangan kasus pertama flu babi atau H1N1 di Kuwait, hal tersebut seperti yang diberitakan kantor berita resmi negeri itu, KUNA, Ahad (24/5).


Virus itu dideteksi pada sejumlah prajurit yang sedang transit di Kuwait dan beberapa prajurit dikarantina di pangkalannya untuk dirawat dan sebagian telah meninggalkan negeri tersebut.

Kantor Berita KUNA mengutip dari Wakil Menteri Kesehatan Kuwait, Youssef Mandakar, yang mengatakan, para anggota tentara itu dirawat di Pangkalan Militer Amerika di Kuwait dan semua tentara AS tersebut telah meninggalkan negaranya.

Dia mengakui, para prajurit tersebut hanya mengalami gejala ringan flu babi setelah mereka tiba di sebuah pangkalan angkatan udara. Namun, dirinya menolak mengatakan tentara tersebut tiba atau datang dari mana.

Pemerintah Kuwait Sabtu kemarin, mengumumkan bahwa sejumlah tentara Amerika yang tiba di negara mereka terinfeksi flu babi. Namun, tidak disebutkan berapa jumlahnya. Bahkan, atase militer dan Kedubes AS menolak memberikan rincian para prajurit yang dirawat dan dua orang yang masih berada di rumah sakit.

Mandakar juga menuturkan, pasukan tidak melakukan kontak dengan penduduk lokal dan mereka (tentara AS) dirawat di fasilitas militer AS.

Kuwait diketahui adalah sekutu utama Washington dan menjadi pusat logistik untuk para personel militer AS yang menjajah Iraq.

Kuwait juga melakukan pemeriksaan intensif bagi para penumpang yang tiba di bandara internasional mereka. Bahkan, negara itu menyiapkan 10 juta dosis obat antivirus untuk mengatasi kasus flu babi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan terdapat 12.022 kasus flu babi dan 86 korban tewas dari 42 negara yang terimbas flu menakutkan tersebut saat ini.

Amerika memiliki jumlah terbesar penduduk yang terinfeksi flu babi, yaitu lebih dari 6.500 orang, disusul oleh Mexico, dengan jumlah hampir 3.900 orang.(muslimdaily.net/syaf/AP)