Tampilkan postingan dengan label DUNIA ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA ISLAM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

Ba'asyir: Silakan Hukum Saya, Tapi Jangan Mencela Syari'at Allah


Setelah menjalani persidangan berbulan-bulan, akhirnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir divonis 15 tahun penjara oleh majelis Hakim pada kamis (16/6) kemarin. Meski vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut hukuman penjara seumur hidup, namun putusan ini sangat mengecewakan bagi umat Islam. Karena vonis ini tak ada bedanya dengan vonis hukuman seumur hidup. Pasalnya, tanggal 17 Agustus 2011 nanti ulama sepuh ini genap berusia 74 tahun.

Bila Amir Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT) ini harus menjalani hukuman penjara 15 tahun, berarti sisa umurnya hingga berusia 85 tahun habis di balik terali besi. Mereka menginginkan ulama kharismatik ini menghuni penjara hingga akhir hayatnya?

Ustadz Abu, demikian biasa disapa, sangat kecewa dengan putusan yang dianggap tidak netral itu, bukan soal besarnya vonis. Tapi Ustadz Abu justru kecewa bila para penegak hukum melecehkan syariat Allah dengan memvonis syariat I’dad sebagai tindak pidana terorisme. Keputusan hakim itu dinilai sebagai bentuk peperangan terhadap syariat Islam.

“Saya menolak putusan hakim karena mereka memutuskan hukum bukan dengan hukum Allah, putusan ini ada unsur memerangi Islam dan pengadilan ini tidak netral,” tegas ustadz Abu saat dibezuk di sel Bareskrim Mabes Polri Jum’at sore (17/6/2011), didampingi sang istri, Ummu Aisyah Baradja.

Karenanya, Ustadz Abu bertekad akan terus melawan penindasan dan kezaliman itu dengan menempuh jalur hukum hingga tingkat PK (Peninjauan Kembali). Menurutnya, I’dad adalah syariat yang diperintahkan Allah. Memvonis I’dad sebagai tindak pidana terorisme adalah pelecehan terhadap Syariat Islam.

“Kalau mereka mau menyalahkan saya mereka harus mendatangkan bukti-bukti dari Al-Qur’an dan Sunnah. Soal I’dad di Aceh misalnya, menurut hukum Islam itu syar’i,” paparnya. “Jadi kalau mereka mau menghukum saya silakan jika saya salah, tapi jangan mencela Syariat Allah dengan mengatakan syariat I'dad sebagai tindakan terorisme ini yang saya tidak terima, ini penghinaan namanya dan akan terus saya lawan,” pungkasnya. [taz, widad]

Sabtu, 02 Januari 2010

Gelombang Penolakan Salafy Ekstrim

Banyak laporan yang dikeluhkan umat dan gerakan Islam dengan keberadaan Salafy -- demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Meski di kalangan Salafy terjadi perpecahan dalam menyikapi ijtihad tertentu, namun kebanyakan umat tidak memahami peta Salafy secara utuh, sehingga cenderung men-generalisir Salafy dengan cap buruk.
Bukan sekali terjadi, benturan antara Salafy dengan gerakan Islam yang ada. Sehingga menimbulkan gelombang penolakan. Di Lippo Cikarang, kajian Salafy terpaksa diliburkan selama sebulan, karena adanya tekanan (ancaman) dari kelompok tertentu untuk membubarkan halaqah ini. Kemudian di Matraman, Jakarta, pernah terjadi penyerbuan kelompok jamaah dzikir yang dipimpin oleh seorang yang mengklaim dirinya habaib, terhadap masjid jamaah Salafy, seraya menuntut masjid itu tidak difungsikan lagi untuk penyelenggaraan shalat Jum’at. Alhasil, tuntutan itu sukses.
Gelombang penolakan juga terjadi di luar Jawa, di Lombok Barat (NTB), sudah beberapa kali terjadi perusakan fasilitas milik ”penganut” Salafy oleh warga setempat. Akibat kesalahpahaman di kedua belah pihak, warga di Dusun Mesangguk, Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok, menyerang jamaah Salafy dengan lemparan batu. Sebelumnya, November 2005, ribuan warga Desa Sesela menyerbu Yayasan Pondok Pesantren Ubay bin Kaab di Dusun Kebon Lauk.
Kepada Sabili, Ketua Komisi Pengkajian Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) Amin Djamaluddin mengaku bahwa Salafy pernah mendatanginya. Mereka meminta agar LPPI menjelaskan kepada masyarakat, bahwa Salafy bukanlah ajaran sesat.
Cara dakwah yang dilakukan kelompok Salafy, membuat umat Islam resah, dan mendesak MUI mengeluarkan fatwa tentang keberadaan Salafy. Sesatkah Salafy? ”Salafy bukan merupakan sekte atau aliran sesat. Salafy, tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang telah ditetapkan oleh MUI. Demikian fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara tanggal 8 April 2009. Fatwa yang ditandatangani oleh Qoimuddien Thamsy (Ketua Umum MUI Jakarta Utara) dan Drs. Arif Muzakkir Manna, HI (Sekretaris Umum) tersebut, setidaknya melegakan kelompok Salafy.
Kendati Salafy bukan aliran sesat, Ketua MUI Pusat KH. Ma’ruf Amien menasihati aktivis Salafy, agar merubah cara dakwahnya menjadi lebih baik, dan memperbaiki sifat ananiyah madzhabiyah yang menganggap diri-kelompoknya paling benar dan mencela golongan lain yang menurutnya salah. ”Padahal, jika masih dalam skala ikhtilaf, tidak boleh asal menyalahkan. Berbeda dengan Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas menyimpang, karena sudah menyangkut prinsip (akidah),” kata Kiai Ma’ruf.
Lebih lanjut, KH Ma’ruf Amien mengatakan, penyerangan warga terhadap jama’ah Salafy, terjadi akibat sifat egoisme kelompok ini yang suka menyalahkan golongan lain yang berbeda pandangan. ”Kelompok ini tidak mau toleransi dengan pemahaman yang berbeda dengan mazhab mereka, sehingga menyulut kemarahan warga,” tukasnya.
MUI Nusa Tenggara Barat (NTB) juga menyatakan, kelompok Salafy tak menyimpang dari ajaran Islam. Hanya saja, penyebaran ajaran ini tidak dikemas sesuai dengan kultur agama yang dianut warga setempat. ”Akibatnya, warga menjadi tersinggung dan anarkis,” ujar Sekretaris MUI NTB Tuan Guru Haji Mahaly Fikri.

Kenapa Salafy Dikecam

Lantas, apa yang membuat kelompok Salafy dikecam? Karena kelompok Salafy kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Inilah yang menimbulkan tenaga gelombang itu membesar.
Salafy acapkali mencela ulama seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, Hasan al-Banna, Taqiyuddin An-Nabhani, Sayyid Quthb, Ahmad Yasin, ’Aidh al-Qarni, Yusuf al-Qaradhawi dan sebagainya. Sementara gerakan Islam yang diserang Salafy diantaranya: Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, FIS Al-Jazair, tak terkecuali Persis, NU, Muhammadiyah, Majelis Mujahidin, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan sebagainya.
Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Salafy. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khawarij, pemberontak, ruwaibidhah (dungu), ahlu takfir, gerakan sempalan sesat, serta teroris, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya.
Salafy punya julukan tersendiri terhadap gerakan Islam yang berseberangan dengannya. Seperti Quthbiy (penganut paham Sayyid Quthb), Sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn Zain al-’Abidin yang menggabungkan paham Salafy dengan Ikhwanul Muslimin), dan hizbi atau hizbiyun (kelompok yang berorganisasi/partai).
Salafy yang merasa dirinya paling benar, sering menuduh tanpa bukti, berdusta atas nama para ulama dan sebagainya. Fitnah pun ditebar di tengah kaum muslimin. Pendiri al Irsyad KH Ahmad Syurkati pun tak luput dari celaan pemuda-pemuda Salafy ekstrim. Dengan sinis mereka menyebut Syurkati mufti kolonial Belanda, mengambil dana lotere untuk memperkuat lembaga.
Anehnya, ketika (ulama) Salafy dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya. Seabreg kecaman pun tertuju kepada Salafy, ketika kelompok ini anti bicara politik, tidak peka terhadap penderitaan kaum Muslimin, fanatik kepada para syaikhnya, keras menghukumi saudaranya sendiri. Sementara pemurtadan merajalela.
Maling teriak maling, khawarij teriak khawarij. Seperti itulah yang digambarkan Abu Muhammad Waskito dalam bukunya yang berjudul: ”Wajah Salafy Ekstrim: Propaganda Menyebarkan Fitnah & Permusuhan”. Sebutan Salafy ekstrim, karena di antara mereka ada yang terjerumus dalam sikap ghuluw (melampaui batas). ”Jumlah mereka mungkin tidak terlalu banyak, kekuatan mereka juga tidak besar, tetapi suara mereka sangat keras dalam mengobarkan fitnah dan permusuhan,” tulis Waskito.
Yang lebih menyakitkan adalah, di saat warga Gaza dibantai Zionis Israel, ulama Salafy asal Saudi, Syaikh Shalih Al Luhaidan melarang umat berdemo. Bahkan menyebut pendemo itu sebagai khawarij. ”Demonstrasi yang terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat fasad fi Al Ardhi alias kerusakan di muka bumi,” kata Syeikh Shalih.
Sebelumnya, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (ulama Salafy) mengeluarkan fatwa agar kaum Muslimin Palestina hijrah untuk keluar meninggalkan bumi Palestina. Fatwa ini menuai kontroversi di tengah kaum Muslimin.
Apalagi? Dengan membabibuta, Salafy ”menyerang” Ikhwanul Muslimin dengan memelesetkannya menjadi Ikhwanul Muflisin (ikhwan yang boke alias tak punya uang). Aroma ”kebencian” pada Ikhwanul Muslimin mencuat tatkala pecah Perang Teluk Babak I. Adalah DR. Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali, yang pertama kali menyusun buku berjudul ”Matha ’in Sayyid Quthb fi Ashab al Rasul” (Tikaman-tikaman Sayyid Quthb terhadap Para Sahabat Rasul). Rabi’ al Madkhali, bahkan mengkritik habis Fi Zhilal al-Qur’an (karya Sayyid Quthb).
Mantan Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib juga melontarkan cacimaki terhadap Syaikh Yusuf al-Qaradhawi dengan menyebutnya sebagai ’aduwullah (musuh Allah) dan Yusuf al-Quraizhi (penisbatan kepada salah satu kabilah Yahudi di Madinah, Bani Quraizhah). Ja’far dikritik gurunya sendiri, Syeikh Muqbil di Yaman, yang mengganti celaan itu terhadap Qaradhawi dengan sebutan Yusuf al-Qaradha (Yusuf Sang Penggunting Syari’at Islam). Tak hanya itu, Hasan al Banna kerap disebut pelaku bid’ah yang akan berakhir di Neraka. Sayyid Quthb disebut pembawa ajaran sesat.
Ketika dihubungi Sabili untuk mengkonfirmasi tuduhannya, Ja’far Umar Thalib menolak, seraya mengatakan via SMS: ”Saya ndak bisa wawancara dengan yang menuduh saya sebagai agen BIN atau Densus 88. Dan Sabili adalah media kampungan yang melansir gosip kelas rendahan.”

Hobi Mencela

Tak dipungkiri, banyak umat Islam di Indonesia tak memahami Salafy secara utuh. Akibatnya, umat kerap menyamaratakan Salafy dengan tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Di sisi lain, umat kadang terjebak dengan penampilan kaum Salafy. Sebagai contoh, sebuah acara Todays Dialogue di Metro TV (2 September 2008), tengah membicarakan topik: ”Islam Radikal Mau Ke mana? Acara itu menghadirkan tiga pembicara, yakni Ustadz Ja’far Umar Thalib, Abdul Moqsith Ghozali (tokoh JIL), dan Nasir Abas (eks anggota JI). Abdul Moqsith Ghazali dan Nasir Abas mewakili pihak yang berseberangan dengan gerakan Islam ”radikal”. Sedangkan Ja’far diharapkan Metro TV menjadi penyeimbang yang mewakili gerakan Islam radikal. Ada skenario, narasumber itu akan dikonfrontasi.
Tapi apa yang terjadi? Ja’far Umar Thalib dalam dialog itu, tidak menunjukkan sikap ”radikal” seperti yang diharapkan Metro TV. Justru sebaliknya, Ja’far dengan berbagai statemennya malah menyerang ”teman seperjuangan”. Bahkan lebih galak ketimbang dua narasumber lainnya. Apa kata Ja’far tatkala ditanya tentang kelompok-kelompok ”Islam radikal” yang ingin berjuang menegakkan syariat Islam dan negara Islam? Dengan gamblang, Ja’far yang Salafy ini mengatakan,”kelompok-kelompok itu harus diberangus sampai ke akar-akarnya.” Bukan hanya pemirsa yang terkejut, Meutia Hafidh, sang pembawa acara pun bertanya keheranan, kenapa harus diberangus?
Ja’far kembali menjawab, dulu, Khalifah Ali bin Abi Thalib memberangus khawarij. Kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam disebut Ja’far sebagai Ahlul Bughot (pemberontak) karena itu wajib diberangus hingga akar-akarnya. Ja’far pun menyamakan pejuang syariat dengan khawarij. Termasuk, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang dicap Ja’far sebagai pentolan neo khawarij, penerap doktrin takfir kepada penguasa Muslim.
Terakhir, dalam sebuah dialog di televisi swasta, Ja’far dijadikan narasumber untuk bicara tentang terorisme. Ia kembali menyerang Sayyid Quthb (tokoh Ikhwanul Muslimin), dan membela Syeikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i. Ja’far mengatakan, semua bentuk radikalisme dan ekstrimisme muncul dari pemikiran Sayyid Quthb.
Yang menarik, adalah ketika terjadi perang pemikiran dalam bentuk buku. Awalnya, (alm) Imam Samudra menulis buku ”Aku Melawan Teroris!”. Seorang ustadz Salafy Abu Hamzah meresponnya dengan menulis pamflet ”Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris”. Selanjutnya, muncul buku bantahan yang berjudul ”Mereka adalah Teroris! Sebuah Tinjauan Syari’at”, ditulis oleh Luqman bin Muhammad Ba’abduh, seorang ulama Salafy Yamani dari Jawa Timur dan merupakan teman seperguruan Ja’far Umar Thalib. Setelah itu, juga terbit buku ”Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Karya Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, buku yang juga bantahan terhadap Luqman Ba’abduh (Mereka adalah Teroris).
Menurut Ustadz Abduh Zulfidar Akaha Lc, buku ”Mereka adalah Teroris!” ternyata tidak sungguh-sungguh membantah Imam Samudra. ”Imam Samudra hanya dijadikan batu loncatan saja. Karena di balik itu, ada lebih dari satu orang yang diserang, baik ulama maupun gerakan Islam. Di dalam buku Mereka adalah Teroris, Luqman Ba’abduh menyebut nama-nama ulama Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb sebagai teroris, Abdullah Azzam, pejuang Islam di Afghanistan, termasuk pula tokoh-tokoh Hamas seperti Syaikh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Ar-Rantisi dan sebagainya sebagai teroris Khawarij.” Intinya, tak ada penghormatan kelompok Salafy ekstrim terhadap ulama maupun mujahid di luar kelompoknya.

Keresahan umat Islam terhadap gerakan Salafy ekstrim di Indonesia, sebetulnya sudah muncul tatkala orang tua santri terkejut melihat putranya yang belajar di Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga, Semarang. Begitu pulang ke rumah saat liburan sekolah, anak-anak hasil didikan Ja’far Umar Thalib dan Yazid Abdul Qadir Jawwas itu, tiba-tiba mencopot gambar-gambar di dinding, membuang radio dan televisi dari rumah mereka. Sejumlah orang tua cemas akan hal ini, lantas mendatangi kantor cabang al-Irsyad di Tengaran, Semarang untuk menanyakan pola didik yang diterima anak-anak mereka. Orang tua juga menuntut cabang al Irsyad bertanggung jawab langsung terhadap pesantren, agar mengekang kecenderungan militan ini.
Diakui Ketua Umum al Irsyad al Islamiyah KH Abdullah Jaidi, ormas Islam yang paling kecolongan dengan pengaruh Salafy adalah al-Irsyad. Khawarij teriak khawarij, ahlu bid’ah teriak bid’ah pun diamini Abdullah Jaidi. Ia memberi contoh, tahun 2005, di Pekalongan, tatkala terjadi perebutan al-Irsyad, Yusuf Utsman Baisa (kelompok Tengaran) dikalahkan oleh Mahkamah Agung (MA). Meski kalah, mereka hendak menggelar rapat, tapi dilarang oleh Kapolri Sutanto ketika itu. Diam-diam, mereka tetap menggelar rapat di kediaman walikota Pekalongan. Hasil rapat memutuskan: menolak keputusan MA. Usai itu mereka berdemo di MA dan Kejaksaan Agung. ”Ini namanya apa? Jelas bughot, menentang pemerintah, menolak MA. Jadi apa yang mereka sebut bid’ah, bughot, mereka sendiri adalah pelakunya,” kata Jaidi.
Kini, penyebaran paham Salafy berkembang melalui buku-buku agama, majalah, kaset, dan situs internet untuk mereka jadikan sebagai propaganda. Buku-buku, majalah dan internet adalah media lain yang mereka gunakan. Hal ini menimbulkan gelombang yang juga tidak kecil. Melengkapi penolakan-penolakan lainnya.
Mereka disokong dana yang cukup besar dari oknum Syekh Saudi Arabia. Suatu ketika pimpinan cabang NU pernah memohon kepada Menteri Agama Maftuh Batsuni agar menyampaikan satu hal kepada Pemerintah Saudi untuk tidak membagikan buku-buku agama kepada jamaah haji di airport, yang hendak pulang ke Tanah Air. Mengingat, buku itu, bertentangan dengan pemahaman agama yang ada di daerah tertentu, sehingga membuat masyarakat bingung, bahkan berubah. Atas laporan pimpinan cabang NU ini, Menteri Agama meminta Pemerintah Saudi tidak membagi-bagikan buku-buku agama, tapi cukup Al Qur’an dan terjemahan saja.
Benarkah Salafy ekstrim tak bisa diajak berdialog? Dalam suatu seminar sehari di Pekalongan yang diadakan al Irsyad -- turut mengundang para ustadz al Irsyad di seluruh cabang Indonesia, termasuk kelompok Salafy Tengaran -- dibahas masalah-masalah yang menyangkut fatwa-fatwa dari kelompok Salafy. Ada enam permasalahan yang dibicarakan. ”Saat itu kelompok Salafy membawa dua koper berisi buku-buku. Sementara kita cuma membawa klipingan saja. Ketika baru membahas tiga masalah, mereka malah hengkang, tidak mau melanjutkan,” ungkap Abdullah Jaidi.
Tahun 1992, di Yogyakarta, Persis yang dipimpin (alm) Shiddiq Amien juga membuka ruang dialog dengan kelompok Salafy yang diwakili oleh Abdul Hakim Abdat. Apa yang terjadi, begitu terdesak dalil-dalil, mereka (Salafy) keluar meninggalkan ruangan.
Bagi masyarakat Muslim, jika ada kelompok yang suka menyalahkan, mencaci-maki —tak mesti Salafy— sudah pasti akan menghadapi gelombang penolakan. Tapi, kalau berdakwah dengan cara yang santun, masyarakat tentu akan menerimanya dengan lapang dada.

SABILI

Senin, 07 Desember 2009

Di Sanalah Syekh Usamah (Berada)


Dunia media baru-baru ini dikejutkan dengan pernyataan bekas tahanan Taliban, sebagaimana dikutip BBC. Tahanan itu mengklaim pernah bertemu Syekh Usamah bin Ladin beberapa kali sebelum peristiwa WTC, 9 September 2001. Tidak hanya itu, tahanan ini pun mengatakan baru saja melakukan pertemuan dengan Syekh Usamah sekitar bulan Januari atau Februari tahun 2009, dan dia dapat mengatur jadwal pertemuan dengannya.

Peryataan ini tentu membuat seluruh komunitas intelijen Barat, CIA dan M16 terheran-heran dan kecewa. Maklum, lebih dari 7 tahun terakhir ini mereka lelah mencari informasi untuk mengetahui keberadaan Syekh Usamah bin Ladin dan belum pernah mendapatkan informasi seperti ini. Lalu, di manakah Syekh Usamah berada ?

'Mukjizat' di Tora Bora

Masih hidupkah Syekh Usamah bin Ladin ? Di manakah dia berada ? jawaban atas dua pertanyaan tersebut ditunggu-tunggu oleh hampir seluruh orang, terutama mereka yang menyangsikan keberadaan beliau. Kisah pengepungan beliau di pegunungan Tora Bora pada tahun 2001 pasca serangan WTC juga belum banyak diketahui, meskipun akhirnya Syekh Usamah sendiri yang mengeluarkan peryataan bagaimana dia dan para sahabatnya berhasil lolos dalam serangan mematikan Amerika dan sekutu-sekutunya tersebut.

Pegunungan Tora Bora, Afghanistan, 20 Rojab 1422 H bertepatan dengan tanggal 7 Oktober 2001 M. Lusinan pesawat tempur Amerika meraung-raung dan memuntahkan timah panas ke parit-parit di sekitar pegunungan Tora Bora. Tidak hanya itu saja, pesawat jenis B 52 dan C 130 itu pun menghujani pegunungan yang wilayahnya tidak lebih dari satu mil persegi tersebut dengan smart bom (bom cerdas), bom-bom cluster dan juga bom-bom pembakar gua. Mereka ingin membumi hanguskan tempat yang kecil ini dan memusnahkannya dari muka bumi. Para pemimpin Amerika yakin akan keberadaan Syekh Usamah bin Ladin di tempat tersebut. Siang dan malam tidak berlalu kecuali ada pesawat tempur yang melintas dengan bombardir dahsyat setiap menitnya. Hal ini terus berlangsung hingga pertengahan Ramadhan.

Sementara itu, Syekh Usamah bin Ladin, bersama sahabat setianya Syekh Ayman Az-Zawahiri, dan sekitar 300-an mujahid terus bertahan dengan hanya berharap ridho dan pertolongan Allah swt dari serangan dan bombardir Amerika yang tiada habisnya. Dengan suhu 10 derajad di bawah nol mereka menggali khondaq (parit) sebanyak seratus buah, dengan rata-rata satu khondaq untuk berlindung 3 mujahid di area yang tidak lebih dari satu mil persegi. Mereka melakukan hal itu untuk menghindari lebih banyak korban yang jatuh akibat bombardir pasukan Amerika. Satu pesawat bisa melintas lebih dari 2 jam, dan satu kali tembakan berisi 20 sampai 30 bom.

Namun, Alhamdulillah. Meski bombardir yang begitu dahsyat dan propaganda pers yang menakutkan, yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap sebuah tempat yang kecil lagi terkepung dari berbagai penjuru ini ditambah lagi dengan tentara munafiqin yang dibayar untuk berperang selama setengah bulan terus-menerus oleh Amerika, teryata dapat dikalahkan oleh pasukan Syekh Usamah bin Ladin. Subhanallah.

Bahkan, atas karunia Allah, Syekh Usamah bin Ladin dan mujahidin di sana tetap mampu bertahan dan balas menyerang, sehingga mampu memulangkan pasukan Amerika dengan kekalahan sekaligus mereka membawa mayat-mayat dan orang-orang yang terluka dari pasukannya. Hal ini membuat pasukan Amerika tidak berani lagi memasuki tempat Syekh Usamah, pegunungan Tora Bora.

Sejarah mencatat berakhirnya pertempuran terdahsyat abad ini antara persekutuan jahat dunia dengan segala kekuatannya melawan sekelompok kecil mujahidin yang berdiri di atas kebenaran, yakni melawan hanya 300 mujahid yang berada dalam khondaq mereka . Hasil pertempuran itu telak dimenangkan oleh Ahlul Iman, Syekh Usamah bin Ladin dengan pasukannya, dimana korban personal kira-kira enam persen dari mujahidin, dan kerugian pada khondaq hanya dua persen, Alhamdulillah.

Syekh Usamah bin Ladin, Masih Hidup ?

Kisah heroik di pegunungan Tora Bora bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Bahkan itu menjadi titik balik perjuangan panjang Syekh Usamah bin Ladin dengan Al-Qa'edanya yang sebelumnya telah disangka 'tamat' oleh AS dan sekutunya. Peristiwa Tora Bora adalah fakta dan bukti kongkrit bahwa Syekh Usamah bin Ladin masih hidup, hingga saat ini.

Namun, dimanakah beliau berada ? Memang, sangat sulit untuk memastikan keberadaan beliau yang kepalanya dihargai US $ 50 juta oleh pemerintah Amerika. Mantan tahanan Taliban yang diwawancarai BBC tersebut mengatakan bahwa informannya yang berasal dari suku Mehsud bertanggung jawab mengatur operasi Al Qaeda. "Sang Syekh tidak tinggal di satu tempat. Orang itu berasal dari Ghazni, jadi saya kira disanalah syekh berada," jelasnya.

Propinsi Ghazni berada di timur Afghanistan, yang merupakan basis terkuat Taliban. Sebagian besar wilayah itu terjaga dari serangan pasukan koalisi asing maupun pasukan murtad Afghanistan. Dari sanalah Syekh Usamah bin Ladin membangun kembali kekuatan Al Qaeda yang sempat porak poranda dibombardir di Pegunungan Tora Bora.

Dinas intelijen AS dan para analis menilai Al-Qa'eda pimpinan Usamah bin Ladin telah menggalang kekuatan dan semakin kuat. Bahkan dalam sebuah rekaman terbaru, Usamah memberikan pesan berisi seruan untuk melancarkan serangan baru. PJ Crowley, analis keamanan dari Pusat Kemajuan Amerika berpendapat bahwa Irak merupakan berkah bagi Al-Qa'eda karena AS menangkap umpan mereka.

Hal ini senada dengan apa yang diutarakan oleh Mike German, mantan agen antiterorisme FBI. Dia mengungkapkan, perang Irak memberi kemudahan bagi Al-Qa'eda untuk membunuh warga AS melalui afiliasinya di Irak. Sementara itu Thomas Kean dan Lee Hamilton dari Washington Post berpendapat : "Tidak ada konflik yang butuh paling banyak waktu, perhatian, korban jiwa, dana, dan dukungan selain perang di Irak. Ini menjadi alat rekrutmen dan pelatihan yang kuat bagi Al Qa'eda,".

Menurut penilaian analis dan beberapa sumber, jaringan Al-Qa'eda yang dipimpin Usamah dalam tujuh tahun sejak serangan 11 September telah membangun markas besar baru di wilayah terpencil di Pakistan. Kawasan pegunungan yang dihuni oleh kelompok suku Pashtun merupakan tujuan pertama ketika pejuang Al-Qa'eda menyelamatkan diri dari serbuan AS yang menggulingkan Taliban di Afghanistan pada 2001 lalu.

Rohan Gunaratna, penulis Inside Al-Qa'eda dan pakar terorisme menyatakan bahwa : "Wilayah suku sudah menjadi markas global pergerakan Al-Qa'eda. Di sana menjadi tempat latihan, perencanaan, dan persiapan serangan terhadap sasaran yang berbau Barat,". Beberapa sumber mengatakan, meskipun keberadaan Usamah hingga sekarang belum diketahui, mereka menyaksikan anak dan calon penerus Usamah, Hamza, baru-baru ini datang ke wilayah suku Pashtun tersebut.

"Tidak ada seorang pun yang tahu dimana Usamah bin Ladin. Dua setengah tahun lalu, dia berada di Provinsi Kunar, Afghanistan. Namun sekarang kami tidak tahu di mana dia," kata seorang milisi. Menangkap Usamah merupakan prioritas AS, bahkan mereka menghargai kepala Usamah sebesar US $ 50 juta.

Sementara itu, Pakistan tegas membantah Usamah berada di wilayahnya. Perdana Menteri Pakistan, Yusuf Raza Gilana, Kamis (3/12), menyatakan, pemerintahannya menindak keras segala pemberontakan Al Qaeda. "Saya meragukan informasi bahwa Usamah bersembunyi di Pakistan," kata Gilani dalam jumpa pers bersama PM Inggris, Gordon Brown, di London.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mehmood Qureshi, mengamini peryataan tersebut, dan mengaku tidak mengetahui di mana Usamah berada, dan apakah masih hidup. "Tak seorangpun mengetahui keberadaannya. Jika Anda mempunyai informasi, kami akan menyukainya, " lanjutnya kepada radio BBC.

Sementara itu, Bruce Riedel, mantan analis Badan Intelijen AS (CIA) menilai dan berpendapat bahwa Syekh Usamah masih hidup. "Kami tahu Usamah masih hidup. Kami tahu dia bersembunyi di suatu tempat yang sulit dijangkau di perbatasan Pakistan dan Afghanistan."

Syekh Usamah : Perjuangan Hingga Akhir

Sebagaimana dikutip dari buku "In The Heart of Al Qaeda" (Ar Rahmah Media, 2008) Syekh Usamah Bin Ladin selalu mengulang pernyataan bahwa beliau tidak ingin tertangkap hidup. Amerika telah mengeluarkan miliaran dollar dan kehilangan ribuan tentara untuk menangkap Syekh Usamah Bin Ladin dengan menghancurkan Al Qaeda. Tapi dari hari ke hari Syekh Usamah Bin Ladin dan Syekh Aiman Al Zawahiri menunjukkan kemenangan politik dan propaganda Al Qaeda.

Tak seorangpun sungguh-sungguh mengetahui dimana kedua pria tersebut bersembunyi, hanya sekedar teori yang beredar. Sebagian percaya bahwa keduanya selalu berpindah lokasi dari satu suku ke suku lain di perbatasan Afghan-Pakistan yang terbentang sekitar 1.500 mil. Wilayah ini diluar wilayah hukum Pakistan yang memandangnya sebagai "Pahlawan Mujahid" yang berperang untuk membebaskan Afghanistan dan telah menyerahkan kekayaan dan kenyamanan hidup bagi saudara-saudara seiman yang berperang melawan musuh-musuh Islam.

Jendral Asad Durrani, kepala Badan Intelijin Pakistan menyakini bahwa kota besar adalah tempat terbaik bagi Syekh Usaman Bin Ladin untuk bersembunyi. Kota-kota seperti Karachi, Faisalabad, Peshawar, Quetta dan Rawalpindi adalah tempat persembunyian yang baik dan melahirkan tokoh-tokoh kunci Al Qaeda.

Dikatakan oleh orang dekat Syekh Usamah Bin Ladin bahwa beliau tinggal di rumah yang sama dengan Abu Zubaydah yang tertanggap di Faisalabad pada bulan Maret 2002. Sumber tersebut mengatakan bahwa Syekh Usamah Bin Ladin meninggalkan rumah tersebut tiga hari sebelum penyergapan terjadi. Penyergapan dilakukan pasukan gabungan Amerika-Pakistan.

Ketika Syekh Usamah mengirimkan rekaman audio-tape bulan terakhir ini, beliau tidak memberi indikasi dimana beliau bersembunyi. Statemen beliau menunjukkan bahwa beliau beserta Syekh Aiman Al Zawahiri berada di tempat yang nyaman dan aman, dan dapat mengikuti perkembangan politik jazirah Arab dan seluruh dunia.

Syekh Usamah mengatakan bahwa sejak kembali ke Afghanistan setelah di deportasi dari Sudan, beliau tidak lagi menggunakan peralatan modern untuk berkomunikasi seperti HP ataupun telpon satelit serta Internet maupun e-mail. Beliau memilih berkomunikasi dengan tulisan tangan yang diantar oleh kurir. Beliau mendapat seluruh berita terbaru dari kurir yang mendownload dan mengkopi dari kafe Internet

Syekh Usamah dan Syekh Aiman Al Zawahiri sangat sulit dilacak karena kecerdikannya. Mereka membuat sistem keamanan mereka sendiri. Beliau selalu dikawal seorang bodyguard dan sekelompok kecil pasukan kepercayaan. Indikasi kesuksesan beliau dalam membuat sistem keamanan adalah bahwa persembunyian dua istri dan hampir dua puluh putra-putrinya di Afghan pun tak pernah di ketahui. Begitu juga keberadaan keluarga Syekh Aiman Al Zawahiri, tak seorangpun tahu.

Syekh Usamah Bin Ladin dan Syekh Aiman Al Zawahiri berpindah-pindah di wilayah yang penduduknya mendukung Al Qaeda dan pengikutnya bersedia mati demi membela beliau. Hal ini berbeda dengan Saddam Hussein yang arogan, ceroboh dan bergerak di wilayah yang sama. Meskipun dalam pelarian Saddam masih berlagak seperti penguasa. Saddam mengunjungi beberapa kepala suku dan berhubungan dengan pengikut-pengikut yang berkhianat dan bodyguard yang tidak setia. Padahal di sana ada 14.000 personil dari tentara Amerika dan tiga perempat dari penduduk Irak melawannya.

Sepertinya, hidup atau mati, Syekh Usamah Bin Ladin akan selalu menjadi masalah bagi Amerika. Jika dia tertangkap hidup-hidup, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menurut beliau, akan menjadikan beliau syahid dan harus lewat operasi berdarah. Membunuh beliau hanya akan menjadikan beliau pahlawan dan menambah kebencian kaum muslimin, khususnya di daerah pendudukan dan para pendukung Al Qaeda, terhadap AS. Kematian Syekh Usamah Bin Ladin tidak akan merubah kekuatan Al Qaeda, sebagaimana kematian Syekh Abu Musab Al Zarqawi yang tidak berpengaruh pada kondisi Al Qaeda.

Pola-pola serangan terbaru Al Qaeda menunjukkan bahwa organisasi tersebut memiliki kehidupan dan kekuatannya sendiri dan tidak bergantung kepada pemimpin atau sosok tertentu dalam organisasi. Hanya Ideologi Islam semata yang menjadikan gerakan ini semakin solid, semakin kuat dan mampu berjuang setelah kematian pemimpinnya sekalipun. Jadi, hidup atau mati, Syekh Usamah Bin ladin tetap menjadi figur panutan dan inspirasi bagi organisasi Al Qaeda.

Wallahu'alam bis showab!

Senin, 02 November 2009

Wisata Syirik, Dipelihara dan Dinikmati

Syirik adalah perbuatan yang amat dimurkai oleh Allah SWT

Hidayatullah.com--Banyak kisah mencatat, Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) sangat murka dengan kaum yang memelihara praktek syirik. Kaum Nabi Nuh, misalnya, menolak untuk menyembah Allah SWT dan terus menerus menyekutukan-Nya dengan berhala-berhala.

Hampir satu milenium lamanya Nabi Nuh berdakwah, namun tetap tak digubris. Allah SWT pun murka dan mengirimkan bencana banjir yang dahsyat kepada mereka. Demikian besar bencana itu, sehingga mereka yang berusaha menyelamatkan diri ke gunung pun tetap tersapu banjir.

Pun demikian dengan kaum Ad. Mereka terus menyekutukan Allah SWT dan menentang dakwah yang dilakukan Nabi Hud. Allah SWT kemudian menurunkan azab. Tiga tahun lamanya hujan tidak turun. Tanah-tanah mengering dan kebun merangas. Air pun langka.

Namun, kaum Ad tetap ingkar. Allah SWT menuntaskan azab-Nya dengan mengirimkan angin puyuh selama tujuh malam delapan hari. Porak porandalah kota itu. Tenggelam dalam lautan pasir sedalam 12 meter.

Syirik adalah perbuatan yang amat dimurkai oleh Allah SWT. Dua kisah tadi menjadi bukti. Namun, tanpa disadari di Indonesia, negeri di mana kita bermukim, telah muncul bibit-bibit syirik. Celakanya, bibit-bibit ini malah ”disiram” dan dipelihara. Akankah kita membiarkan saja bibit-bibit itu berkembang dan bermekaran hingga azab Allah akan turun kepada kita? Nau'zubillah summa nau'zubillah!

Rabu, 01 Juli 2009

Istri Menteri Saudi, Sekali Belanja 1,2 Milyar


Para penguasa dan orang kaya di negeri Arab memang suka ada-ada saja—jika tidak mau dibilang tak punya empati.

Maha al-Sudairi, istri dari menteri dalam negeri Saudi, mengeluarkan lebih dri $120.000 (atau lebih dari Rp. 1,2 milyar lebih) hanya untuk berbelanja barang di satu toko saja, begitu menurut penuturan para pengacara al-Sudairi.

Bahkan saking banyaknya jumlah belanjaannya, Maha al-Sudairi harus berurusan dahulu dengan pengadilan agar bisa membawa barang-barang yang telah dibelinya ke negaranya. Selain juga karena ia tampaknya kesulitan dalam membayarnya, walau tak urung kemudian melunasinya juga.

Putri Saudi ini berplesir di hotel Georges V, yang bersebelahan dengan Champ Elysee yang terkenal mahal, glamour dan mewah di ibukota Prancis. Hotel itu sendiri dimiliki oleh keponakannya yang juga berasal dari Saudi. Ia mempunyai kekebalan politik karena status suaminya selama ini.

Jumlah sebanyak itu hanya ia bayarkan untuk membeli kalung dan pakaian dalam yang jumlahnya mencapai $100.000. Ini bukan pertama kalinya seorang putri Saudi masuk headline koran internasional karena belanja yang gila-gilaan. Duh Saudi, Saudi…

AS Datang, Kaum Gay Irak Berpesta


Baghdad sekarang memang sudah benar-benar berubah. Dan perubahan itu tak lepas dengan keberadaan kedutaan besar AS di negara Iraq tersebut.

Pada awal Juni kemarin, diberitakan kedutaan besar AS mengadakan pesta gay di Baghdaddy’s, pub yang biasa dikunjungi oleh pejabat dan petugas kedutaan besar AS.

Tema pesta itu tidak tanggung-tanggung dan tidak malu-malu lagi, yaitu Gay Pride (atau kurang lebih Bangga Menjadi Gay). “Ayo datanglah dan rayakan musim panas kita dengan penuh warna… Termasuk kostum pesta Anda.” Begitu undangan pesta tersebut.

Dress code dalam undangan itu adalah apapun asal menunjukan sebagai ikon gay. Pesta ini terbuka untuk umum. Undangannya sendiri disebar melalui e-mail. Undangan itu menyebutkan bahwa peserta pesta nantinya akan mendapatkan hadiah dari dua buah kontes yang akan digelar dalam acara itu, yaitu Ikon Gay Berpakaian Terbaik, dan Penampil Lip Synch Terbaik (kontes menyanyi). Salah satu harian terbesar Baghdad, Tigris, bahkan ikut dalam mensponsori kegiatan ini.

Juru bicara kedutaan besar AS mengeluarkan pernyataan, “Kegiatan ini disponsori oleh sekelompok petugas kedutaan besar. Karena kurangnya tempat-tempat untuk menyelenggarakan pertemuan seperti ini di Baghdad, maka kedutaan besar mengizinkan kelompok ini menggunakan fasilitas sosial dengan ketentuan siapa yang datang duluan, maka dilayani lebih dahulu.”

Pesta gay di Iraq, sesuatu yang tak akan pernah terjadi di zaman Saddam Hussein. Menangislah umat Muslim di Iraq sekarang.

Jumat, 19 Juni 2009

Ratusan Umat Islam Sholat, Dibunuh oleh Tentara Thailand

NARATHIWAT--Beberapa waktu lalu, tepatnya Senin (8/6), terjadi peristiwa berdarah di sebuah Masjid di distrik Cok-Ai-Rong, Narathiwat, Thailand selatan. Sekitar 6 orang bersenjata yang menutup wajah mereka memasuki mesjid saat Muslim Thailand melaksanakan sholat Isya berjamaah.

Sedikitnya 11 Muslim gugur pada malam itu dan 13 lainnya mengalami luka-luka cukup serius. Sungguh biadab, menyerang mereka yang tengah menjalankan ibadah.

Pemerintah Musyrik Thailand mengatakan akan melakukan investigasi terkait peristiwa ini, namun hingga kini mereka tidak mengeluarkan statemen satupun untuk mengungkap siapa yang berada di balik peristiwa berdarah tersebut.

Peristiwa ini terjadi untuk menggembosi perjuangan mujahidin Pattani Darussalam. Sesaat setelah peristiwa, militer Thailand mengeluarkan statemen yang menuduh mujahidin Pattani sebagai dalang dari kejadian malam itu. Mereka dengan kejam memfitnah para mujahidin dan ingin memperlihatkan ke publik internasional bagaimana kejamnya mujahidin membunuh sesama Muslim di sana.

Namun semua itu adalah propaganda dan kebohongan semata, dapat dipastikan militer musyrik Thailand berada di balik serangan.

Penduduk lokal, bahkan anak-anak Muslim di sana memberikan kesaksian mereka. Jika ditanya kepada anak-anak berumur di bawah 10 tahun siapa yang melakukan kekejaman di Mesjid Ai-Payae? Mereka menjawab, "SIAM..SIAM dan sudah pasti SIAM (Thailand)."

"Aku yakin, bukan para mujahidin yang melakukannya karena mereka tidak akan mengotori kesucian masjid," ujar salah seorang penduduk yang juga menjadi saksi mata peristiwa malam itu.

"Serangan di sebuah mesjid bukanlah 'gaya' para 'militan'," ujar penduduk lokal lainnya menambahkan.

Sebelumnya, sekitar 5 tahun lalu pernah terjadi peristiwa serupa di bulan suci Ramadhan di Ta-ba (Takbai). Militer Musyrik Thailand menjadi dalang dalam peristiwa berdarah ini.

(haninmazaya/arrahmah.com)

* berita dan foto dikirimkan oleh member forum arrahmah.com yang berada di Thailand.
[arrahman]

FBI akan Terus Mata-matai Masjid


LOS ANGELES –- Direktur FBI (Biro Penyelidik Federal), Robert Mueller, membela langkah lembaganya menggunakan informan di dalam masjid. Langkah ini menuai protes dari berbagai organisasi Muslim. Pasalnya, para jamaah dan ulamalah yang menjadi target, bukannya pelaku potenisial terorisme.

Komentar Muller terlontar beberapa hari usai organisasi Muslim Michigan meminta Departemen Kehakiman untuk menyelidiki keluhan terhadap tindakan FBI ini. Badan penyelidik pusat tersebut meminta warga Muslim untuk memata-matai para pemimpin Muslim dan jamaah.

Keluhan yang sama sebelumnya pernah muncul menyusul pernyataan FBI awal tahun ini, bahwa mereka menaruh mata-mata di masjid dan Islamic Center di California Selatan.

''Kami tak menyelidiki tempat (masjid), kami menyelidiki individu-individu,'' kata Mueller dalam jumpa pers di Los Angeles, Senin (8/6).

''Untuk mencari kemungkinan adanya bukti atau informasi lain dari tindakan kriminal, maka kami akan tetap melakukan penyelidikan itu,'' kata Mueller. ''Kami akan terus melakukannya.'' Ia mengatakan hubungan (FBI) dengan Muslim AS 'sangat baik', namun ia menyadari ada juga yang tak sepakat.

Dewan Organisasi Islam di Michigan mengirimkan surat kepada Jaksa Agung AS, Eric Holder, setelah sejumlah jamaah masjid dan anggota sebuah kelompok Muslim lainnya diminta FBI untuk memonitor jamaah yang datang ke Masjid dan infak yang mereka keluarkan. Kantor FBI di Detroit membantah melakukan ini.

Di California, informasi tentang informan yang memata-matai Irvine Islamic Center terkuak dalam persidangan terhadap Ahmadullah Niazi, saudara tiri pengawal Osama bin Laden, pada Februari lalu. Niazi, warga naturalisasi AS asal Afghanistan, dituduh berbohong tentang hubungannya dengan terorisme dalam formulir paspor dan kewarganegaraannya.

Pemimpin Muslim setempat menyatakan mencurigai sejak 2006 bahwa FBI mencoba menyusupi organisasi Muslim di kawasan tersebut. ''Sejarah membantah pernyataan Mueller (tentang hubungan FBI-Muslim), setidaknya di California Selatan,'' kata Shakeel Syed, salah satu pemimpin Lembaga Shura Islam di California Selatan.

''(Pernyataan) itu tak meredakan apa pun, hanya semakin menunjukkan arogansi yang didemonstrasikan oleh FBI. Mereka menganggap anggota komunitas Muslim, ulama, masjid, sebagai tersangka,'' kata Syed, yang bersama rekan-rekan ulama lainnya meminta pemerintah menunjukkan catatan aksi mata-mata terhadap Muslim.

Para agen FBI dan jaksa penuntut mengatakan memata-matai masjid adalah salah satu senjata terbaik untuk menangkap teroris yang tersembunyi atau mengungkap ancaman terhadap keamanan negara.

Namun, tindakan ini muncul menjadi isu politik dan hukum yang pelik. Muslim menganggap mereka diawasi secara tidak adil. ''FBI memang harus melakukan apa yang harus dilakukan,'' kata Syed. Namun lembaga ini mencoba untuk menghasut dan menjebak orang-orang yang taat hukum.''

Lebih lanjut, Mueller mengatakan tak akan ada perubahan prioritas FBI dalam pemerintahan Obama. ''Kami tak akan pergi dari isu kontraterorisme,'' katanya. ''Kami tak akan merasa santai atas tanggung jawab kami dalam hal kontraterorisme atau kontraintelijen.'' -ap/arp/ahi/RioL

Senin, 25 Mei 2009

Bentrokan Saat Demo Penyobekan Al Quran di Yunani

Bentrokan terjadi saat para demonstran yang sebagaian besar adalah umat muslim dengan polisi di ibukota Yunani Athena.

Sekitar 1.000 lebih pengunjuk rasa memadati jalanan Athena hari Jum'at 22 Mei setelah seorang polisi dikabarkan melakukan penistaan terhadap kitab suci umat Islam, Al Quran. Seorang polisi diberitakan menyobek-nyobek Al Quran yang dibawa seorang imigran asal Irak saat melakukan pemeriksaan identitas.

Polisi Yunani yang membabi buta menembakan gas air mata ke arah demonstran di sekitar parlemen Yunani.

Aksi unjuk rasa ini merupakan kali ke dua terhadap tindakan sombong polisi Yunani menyobek-nyobek Al Quran.

Para demonstran berbaris di jalanan kota Athena sambil memekikkan takbir "Allahu Akbar" dan membawa berbagai poster agar penduduk Yunani menghormati Islam dan umat Islam.

"Kami ingin petugas atau pejabat yang terlibat untuk segera diajukan ke pengadilan dan pemerintah mengeluarkan permintaan maaf," kata Manala Mohamed, seorang berkebangsaan Syiria yang mengkuti demonstrasi kepada wartawan AP.

"Kami ingin para warga menghormati kami."

Unjuk rasa yang dilakukan di sekitar lapangan Omonia ini melibatkan para imigran dan organisasi anti rasisme.

Sebelumnya, pada hari Rabu 20 Mei juga sempat terjadi bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa, pada demonstrasi yang pertama.

Beberapa kali sempat terjadi bentrok antara para imigran muslim dengan beberapa kelompok kanan Yunani yang membenci kedatangan mereka. (muslimdaily.net/dkr/aljzr)

Jahanam Israel Ciptakan Gempa, Siap Musnahkan Masjid Al Aqsa

YERUSALEM TERJAJAH – Para ahli memperingatkan tentang adanya skema dari kaum Zionis untuk menciptakan ulang sebuah gempa buatan yang dirancang untuk merobohkan masjid Al Aqsa. Para ahli menekankan bahwa Israel sudah mengungkapkan rencananya tersebut di televisi dan artikel surat kabar yang tidak terhitung jumlahnya mengenai penghancuran Al Aqsa dengan cara menciptakan gempa buatan.

Dalam rencananya, Israel akan menciptakan gempa buatan melalui penanaman bom di sebelah barat Negev, di sebuah laut di Eilat, kemudian orang-orang akan merasakan getaran dari ledakan tersebut, lalu para ilmuwan memberikan keterangan, sementara Israel menyatakan bahwa ada “gempa bumi” melanda daerah tersebut dan menyebabkan atap-atap bangunan menjadi runtuh.

Para ahli menambahkan: “Ada kemungkinan Israel mempergunakan jalur terowongan lebih banyak daripada menggunakan jet F-16 untuk menembus tembok suara masjid tersebut yang dihancurkan oleh serangan penjajahan.

Israel sekarang meningkatkan pengalian dan pembangunan terowongan dibawah masjid Al Aqsa dengan tujuan utama yang sangat jahat, yaitu agar fondasi Al Aqsa menjadi rapuh dan setiap saat siap runtuh,” Ditekankan bahwa gempa/getaran sekecil apapun akan sedikit menenggelamkan masjid.

Ditambahkan lagi, bahwa Israel tidak akan menunggu hingga terjadi gempa bumi sungguhan, untuk mempercepat proses penghancuran Al Aqsa, Israel sudah merancang gempa bumi buatan dan untuk segera menghancurkan masjid Al Aqsa, dengan mengambil kesempatan ditengah lemahnya persatuan bangsa Arab dan diamnya mereka terhadap penggalian yang dilakukan oleh tangan-tangan terkutuk Yahudi Israel di kompleks Al Aqsa.

Para ahli memandang penggalian di sekitar kompleks masjid Al Aqsa tersebut sebagai skema licik Israel untuk melenyapkan Al Aqsa, yang merupakan tempat suci ketiga bagi umat Muslim.

Ruang hampa yang dibuat dibawah masjid ditambah dengan fondasi yang semakin rapuh ditambah lagi dengan pengalian pasir dan batu semakin menunjukkan bukti nyata bahwa Al Aqsa tengah dalam kondisi genting.

Israel mempergunakan bahan kimia untuk melelehkan batu-batu dan juga bahan peledak dalam jumlah besar, keduanya kemudian dimaksimalkan oleh ledakan yang ditimbulkan oleh guncangan dan ledakan sekecil apapun. Walaupun demikian, hampir bisa dipastikan bahwa Israel akan menggunakan kekuatan maksimum agar struktur bangunan masjid ikut hancur berkeping-keping.

Tahapan pertama proses penggalian masjid Al Aqsa sudah dimulai setelah perang tahun 1967, dengan pembantaian da pemusnahan orang-orang Maroko yang tinggal berdekatan dengan tembok ratapan di sisi barat masjid Al Aqsa, dan pembuatan gerbang masuk Mughrabi sebagai jalan dari tikus-tikus kelaparan Yahudi yang terdiri dari para serdadu penjajah, dan juga para kaum Yahudi pindahan menuju kompleks masjid.

Setelah melakukan penjajahan, Israel langsung melakukan penggaliandibawah masjid Al Aqsa untuk “mencari kuil Yahudi”.

Kaum Yahudi sangat ingin segera menjalankan skema penghancuran masjid Al Aqsa, dan nantinya seluruh umat Muslim. Ini bukan lagi sekedar peringatan dan tulisan dalam artikel, yang paling gawat adalah konspirasi yang diciptakan Israel dalam sejarah, Israel juga mengklaim bahwa penerapan rencana besar Yahudi tersebut sebagai hal yang paling penting.

Selain itu, Israel juga dengan lancang membangun puluhan sinagog mengelilingi masjid Al Aqsa sinagog-sinagog tersebut semuanya dibangun diatas tanah wakaf dan real estate milik bangsa Arab dan juga wilayah bersejarah warisan umat Muslim, dan tidak ada upaya apapun yang mampu dilakukan umat Muslim untuk mempertahankannya.

Sheikh Ra’ed Salah, kepala Gerakan Islam untuk tanah terjajah 1948, menyerukan kepada dunia Arab dan Islam untuk menandai tanggal 7 Juni, hari jatuhnya Yerusalem pada tahun 1967, sebagai saat untuk mendukung kota terjajah Yerusalem dan juga Masjid Aqsa.

Komite pembangunan ulang dari Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu, memperingatkan bahwa penggalian yang dijalankan oleh Israel di bagian Timur Yerusalem merupakan sebuah ancaman besar bagi Islam dan keagamaan Arab dan kawasan historis khususnya Masjid Aqsa yang mungkin bisa roboh oleh gempa buatan ataupun gempa alami.

Ra’if Najm, kepala deputi dari komite tersebut, menyatakan dalam pers bahwa tujuan dari penggalian tersebut, seperti yang dikatakan arkeolog Israel, adalah untuk mencari tanda-tanda dari dugaan-adanya kuil Solomon, menambahkan bahwa jika kebohongan ini tidak disanggah, dunia akan mempercayainya.

Najm menggarisbawahi bahwa jumlah penggalian ini berjumlah mencapai lebih dari 60 terowongan, yang paling serius adalah terowongan bagian barat Masjid Aqsa yang terdiri dari dua lantai dan ruangan-ruangan bawah tanah.

Sheikh Salah membenarkan bahwa pemerintah penjajah Israel ingin menyingkirkan setiap bentuk kedaulatan Muslim, Arab, atau Palestina di Masjid Al-Aqsa kemudian mencoba untuk melumpuhkan pemeliharaan Masjid Aqsa hingga akhirnya merobohkannya dengan paksa. (dn/im/sm/smedia)

Selasa, 12 Mei 2009

Inggris, Paksa Koki Muslim Masak Babi

Dari banyaknya tekanan dalam kehidupan Muslim di Barat, menghindari daging babi merupakan satu diantara tekanan-tekanan tersebut, terutama jika seorang koki Muslim dipaksa untuk mengolah daging babi dalam pekerjaan tersebut.

Hasanali Khoja, seorang koki Muslim berusia 60 tahun di Inggris, mengatakan pada sebuah pekerjaan pengadilan di Watford pada hari Senin, ia “ditekan dan dihina” setelah majikannya memintanya untuk mengolah produk-produk daging babi dengan mengesampingkan kepercayaannya.

Khoja diminta untuk memasak menu ‘sarapan pagi 999’, sebuah makanan yang populer diantara petugas kepolisian dan terdiri dari sosis, daging bacon dan puding hitam. Makanan tersebut mendapat julukan seperti itu, karena makanan tersebut merupakan makanan tradisional bagi para petugas polisi dalam porsi yang besar untuk memulai hari.



Khoja mengajukan tuntutan sebuah klaim diskriminasi keagamaan melawan Polisi Metropolitan pada 2007 mengklaim bahwa ia adalah korban dari isyarat rasis dan diskriminasi keagamaan. Ia menuduh bossnya, Paul Bell, pada dapur polisi di bandara Heathrow – dimana Khoja dipindahkan pada 2007 – atas perbuatannya membuat isyarat-isyarat rasis ketika Khoja menolak untuk memasak sosis daging babi dan bacon.

Khoja mengatakan bahwa tindakan pencegahan seperti mamakai sarung tangan atau memegang daging babi dengan penejepit tidaklah cukup, Khoja mengatakan kepada pengadilan, seakan-akan tindakannya tersebut tidak akan melindunginya dari resiko cipratan minyak ketika memasak daging babi. Mengklaim bahwa cipratan tersebut akan melanggar kewajiban dari kepercayaannya.

Kemudian selama enam bulan ia menderita karena stress.

Kemarin, ia mengatakan pada sebuah sidang dengar pendapat di Watford bahwa setelah pelatihan di Austria dan sampai di Inggris pada 1980, ia telah bekerja untuk beberapa restoran dan hotel sebelum melamar sebuah pekerjaan sebagai manager katering senior dengan Met pada 2004.

Pada wawancara tersebut ia mengatakan pada direktur katering Peter Pierce bahwa ia adalah seorang anggota dari kelompok pekerjaan Agen Standar Makanan Halal.

Khodja mengatakan: “Saya menjelaskan bahwa saya akan mempunyai masalah dalam mengolah produk-produk daging babi. Pada waktu itu saya menjabat sebagai manager katering senior yang terutama terlibat tugas-tugas administratif dan tidak mengolah makanan.’

Ia kemudian dipilih untuk pekerjaan tersebut, tetapi setelah kemampuan komputernya ditemukan mulai berkurang dan ia gagal dalam dua penilaian, Ia diturunkan menjadi ‘manajer katering yang lebih tinggi’.

Ia didaftarkan pada pusat pelatihan the Met di Hendon, London Utara dan tetap disana selama dua tahun. Tugas-tugasnya melibatkan manajemen dan memastikan keamanan makanan.

Tetapi selama sebuah pelatihan ia dan seorang teman manajer diperintahkan untuk menyiapkan menu sarapan 999 untuk petugas kepolisian pada pagi hari.

Khoja mengatakan bahwa temannya tersebut menggoreng bacon dan sosis, sementara ia menyiapkan telur dan roti panggang.

Khoja menuduh Scotland Yard menolak untuk menjamin bahwa ia tidak akan menangani daging babi lagi. Dalam terbitan terdahulunya pada 2004, sebagai seorang manajer katering senior di Hendon Police College di London Utara, koki Muslim tersebut dibebaskan dari keharusan memasak daging babi. Atas pemindahannya, manager sumber daya manusianya yang baru mengatakan pada Khoja bahwa tidak ada perjanjian semacam itu yang dijamin.

Pegawai pengadilan merupakan badan peradilan independen yang menentukan perselisihan antara para majikan dan pegawainya atas hak-hak pegawai. Persidangan Khoja diharapkan mempertimbangkan masalah keagamaannya melawan majikannya dan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut atau menyelesaikannya melalui kompensasi.

SuaraMedia.com

Sabtu, 25 April 2009

Di Amerika, Gereja pun mendapat Hidayah menjadi Mesjid

Buffalo, New York – Sebuah kelompok Muslim telah membeli bekas Gereja Katolik Queen of Peace (Ratu Perdamaian), rumah ibadah kaum Protestan, biara, dan sekolah di jalan Genesee dan berencana untuk menggunakannya sebagai sebuah pusat komunitas Muslim dan Masjid.

Gereja tersebut, oleh arsitek yang merancang kawasan Balai Kota Buffalo, akan disebut Masjid Jami, yang berarti sebuah ruang untuk berkumpul bersama. Dr. Hatim Hamad mengatakan, Masjid tersebut dibeli oelh seorang Muslim yang telah berumur.

Kesepakatan tersebut merupakan bukti lebih jauh dari sebuah kehadiran pertumbuhan Muslim di seluruh bagian Barat New York, yang memiliki sembilan Masjid dan yang ke-sepuluh sedang dibangun di Transit Road di Amherst.

Masjid Jami, yang diramalkan memfokuskan pada anak-anak dan melebihi target, akan menawarkan keanekaragaman program bagi anak-anak muda.

“Mereka membangun Masjid-Masjid besar, tetapi tujuan keseluruhan kami adalah kami ingin memiliki sesuatu bagi komunitas,” Hamad, seorang asisten professor klinis di Universitas di Sekolah Kedokteran Gigi Buffalo, mengatakan.

“Di Buffalo, tidak terdapat pusat komunitas yang sebenarnya bagi kaum remaja Muslim,” Hamad, yang sudah menikah dan memiliki empat anak, menambahkan. Pusat komunitas tersebut tepat di tengah Buffalo.”

Queen of Peace (Ratu Perdamaian) adalah gereja Katolik ke-delapan di Buffalo yang terjual sejak 2006, tahun dimana keuskupan Buffalo memulai sebuah penyusunan ulang dari anggota jemaah gereja. Queen of Peace ditutup pada akhir 2007.


Prosesi penutupan Gereja Queen of Peace Catholic tahun 2007

Kelompok Muslim, yang terdaftar sebagai Darul Hikmah Inc. pada informasi akte menyimpan dengan kantor kerani Erie County, telah memenuhi $300.000 kesepakatan pada minggu ini. Bangunan tahun 1955 pada jalan Genesee tersebut, termasuk sebuah gereja dengan luas 15.875 kaki persegi, perumahan pendeta protestan, biara dan 13.338 kaki persegi sekolah.

Keuskupan masih mencoba untuk menjual 30 properti, termasuk tujuh di kota.

Darul Hikmah merupakan satu diantara empat penawar untuk properti Queen of Peace, pendeta David Bialkowski, pastur dari Gereja Katolik St. John Gualbert, anggota jemaah gereja bertanggung jawab untuk pemeliharaan dari properti tersebut.

Kelanjutan dari penjualan tersebut akan melunasi hutang-hutang yang berhubungan dengan gereja yang ditutup lainnya, begitu juga dengan hutang yang ditumpuk oleh keuskupan untuk memelihara dan biaya fasilitas pada properti tersebut, Bailkowski mengatakan.

Queen of Peace, dibangun pada akhir 1920-an, dan dirancang oleh arsitek George Dietel dan John J. Wade dalam sebuah rancangan bentuk silang yang tidak biasa dengan sekolah sebagai lengan kiri dari silangan tersebut, perumahan pendeta Protestan sebagai lengan kanan dan tempat suci di tengah, menurut penelitian daerah gereja-gereja Buffalo tahun 1995 oleh James Napora.

Properti tersebut juga tidak biasa karena petak lebarnya dari ruang hijau yang menghadap Jalan Genesee.

Sekolah St. Monica, sebuah sekolah tingkat lanjutan untuk perempuan yang dijalankan oleh Jesuit, masih menggunakan sekolah di properti tersebut dan dipersilahkan untuk melanjutkan beroperasi di sana setidaknya sampai akhir penyewaan, Hamad mengatakan.

Sebelum penjualan, altar gereja yang terlalu banyak hiasan di jual kepada sebuah anggota jamaah gereja di Colorado. Kebanyakan bangku gereja dan simbol-simbol Kristen yang lain juga telah dipindahkan, walaupun mural kanvas besar yang dibuat oleh seniman kegerejaan, Josef Mazur dan jendela-jendela kaca bergambar dengan tokoh-tokoh Kristen masih tetap ada.

Kelompok Muslim merencanakan untuk memasang karpet dan melakukan beberapa pengecatan, Hamad, seorang lulusan dari kedokteran gigi Universitas Buffalo yang pernah bekerja di Angkatan Laut sebelum kembali ke Buffalo sekitar dua tahun yang lalu, mengatakan.

“Hal yang paling utama yang saya hargai di Buffalo adalah toleransi dan penerimaan dari warga non-Muslim,” ia mengatakan. (ppt/bn/smedia)

Condoleezza Rice Pernah Izinkan Siksa Tahanan

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS rra George W Bush, Condonleezza Rice pernah mengizinkan menyiksa tahanan

Hidayatullah.com--Menteri luar negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) era presiden George Walker Bush, Condoleezza Rice, diketahui pernah mengizinkan permintaan Badan Intelijen CIA untuk menerapkan penyiksaan waterboarding dalam menginterogasi tersangka teroris Al-Qaidah, Abu Zubaydah pada Juli 2002.

Keputusan ini diambil Rice saat ia masih menjabat penasehat keamanan nasional. Izin diberikan kepada Direktur CIA saat itu, George Tenet. Pemberian izin ini menandai penggunaan metode waterboarding untuk pertama kalinya.

Teknik interogasi itu dilakukan dengan cara mengikat tangan dan merebahkan tubuh tersangka di atas papan, kemudian menuangkan air ke wajahnya yang terbungkus karung. Efek penderitaan waterboarding setara dengan teknik menenggelamkan kepala terperiksa ke dalam bak yang penuh air.

Peranan Role ini terungkap dalam sebuah dokumen yang dipublikasikan oleh Komisi Intelijen Senat AS pada Rabu (22/4). Dokumen itu berisi rincian kronologi perkembangan program interogasi CIA di Gedung Putih. Sejumlah perbedaan pendapat juga terlihat dikesampingkan dalam catatan kronologi metode tersebut.

Dokumen ini menunjukkan Rice memiliki peran yang lebih besar dari yang ia akui akhir tahun lalu melalui kesaksian tertulis kepada Komisi Pertahanan. Sebelumnya Rice hanya mengaku mengikuti rapat membahas penggunaan metode itu dan meminta jaksa agung membuat peninjauan hukum.

Beberapa hari setelah izin diberikan, Departemen Kehakiman juga memberi izin dalam memo rahasia bertanggal 1 Agustus. Pada bulan yang sama, Zubaydah diinterogasi dengan teknik ini sebanyak 83 kali.

Juru bicara Rice menolak memberi komentar ketika dihubungi.

Kronologi ini terbit sehari setelah Komisi Pertahanan mengeluarkan laporan yang menunjukkan hubungan antara program interogasi kasar CIA dan penyiksaan tahanan di penjara Teluk Guantanamo di Kuba, Afghanistan, dan penjara Abu Ghraib di Iraq.

Syeikh Al Azhar: “Pembatasan Keturunan Haram!”

Syeikh Al Azhar bedakan antara pembatasan ketururnan dan penataan keluarga, yang satu haram, yang kedua mubah

Hidayatullah.com--Dr.Muhammma d Sayyid At Thanthawai, Syeikh Al Azhar fatwakan bahwa pemerintah tidak berhak membuat undang-undang untuk membatasi keturunan, untuk menghindari peningkatan jumlah penduduk.

Dr. Thantawi mengatakan demikian di pertemuannya di Masyikhah Al Azhar pada hari Selasa (24/4) dengan utusan Kementerian Wakaf dan Urusan Agama dari Yordan Syeikh Jamal Husain AL Bathaniyah, yang sengaja datang ke Mesir untuk mempelajari pengalaman Mesir dalam mengatasi pertambahan jumlah penduduk.

“Menurut saya tidak sah dan tidak boleh ada undang-undang demikian, dan pemerintah tidak mmiliki hak untuk membatasi keturunan setiap keluarga, karena masalah itu termasuk masalah pribadi, yang menyangkut suami-istri saja,” jawab At Thathawi, ketika ditanya mengenai kemungkinan pemerintah untuk membatasi jumlah keturunan melalui undang-undang.

Menurut beliau penataan keluarga tidak bisa diselesaikan dengan undang-undang, karena setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Hal yang demikian hanya bisa diselesaikan dengan memberikan pemahaman.

Beliau membedakan antara penataan keluarga (tandhim al usrah), dengan pembatasan keturunan. Tandhim al usrah merupakan kesepakatan suami-istri untuk menggunakan cara tertentu, untuk mengatur jarak kehamilan atau menghindari kehamilan sama sekali, ini adalah hal yang dimubahkan. Adapun pembatasan keturunan atau pelarangan terhadap kelahiran secara permanen adalah hal yang diharamkan, dalam keadaan apa pun. [tho/Iol/www.hidayatullah.com]

Karena Stress, Tentara Perempuan Kanada Bunuh Diri

KANDAHAR (Arrahmah.com) - Seorang tentara perempuan anggota markas besar Pasukan Tugas Kanada ditemukan tewas di kamarnya di Bandar Udara Kandahar Afghanistan. Ia disinyalir membunuh dirinya sendiri.

Namun, Kementrian Pertahanan Kanada mengumumkan bahwa kematian Mayor Michelle Mendes (30) sebelumnya telah direncanakan dan diatur oleh pihak-pihak tertentu.

Kematian Mendes menambah jumlah tentara Kanada yang meninggal di Afghanistan sejak awal misinya tahun 2002 menjadi 118 orang, termasuk tiga orang tentara wanita.

Walaupun penyebab kematian belum jelas, namun hingga saat ini dugaan kuat insiden kematian itu diakibatkan oleh bunuh diri atau kasus salah pengobatan.

Menurut Departemen Pertahanan Nasional dan Layanan Kesehatan Pasukan Kanada, sebanyak 14 persen dari tentara Kanada yang kembali dari Afganistan dilaporkan mengalami gejala stres akibat pengalaman yang tidak menyenangkan dan 6,5 persen mengalami gejala tekanan traumatis atau post-traumatic stress disorder (PSTD), depresi, atau keduanya.

Trauma yang berlipat-lipat ganda di Afganistan juga menyebabkan tekanan yang cukup besar bagi para keluarga masing-masing personil militer di Kanada. Di Pusat Phoenix bagi Anak dan Keluarga di Pembroke, Ontario, jumlah kasus ini melonjak jadi 71 keluarga -- dari 12 keluarga sebelum misi mematikan di Kandahar dimulai tiga tahun yang lalu.

Pihak Phoenix sedang berusaha memahami persoalan yang bervariasi mulai kelakuan seperti anak kecil yang dikemudikan oleh kegelisahan sehingga suka mengompol dan suka tiba-tiba menyerang, sampai kekerasan rumah tangga, depresi, dan juga perceraian.

Kanada telah menyebarkan sekitar 2.800 personil tentaranya sebagai bagian dari Pasukan Keamanan Internasional yang dipimpin oleh NATO di Afganistan selatan.

Minggu lalu, tentara Karine Blais (21) meninggal dan empat orang tentara lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan di distrik Shah Wali Khot, sebelah utara Kandahar. (Althaf/ptv/arrahmah.com)

Senin, 20 April 2009

Kembalinya Pengikut Ahmadiyah di Tasikmalaya ke Jalan yang Benar



ImageAlislamu.com -- "Asyhadu anllaa ilaha illallah Wa Asyhadu anna muhaammadarrasullullaah.'' Dua kalimat syahadat itu bergema di Masjid Al-Barokah, Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (17/4). Sekitar pukul 09.30 WIB, sebanyak 35 warga desa itu berikrar untuk memeluk Islam, satu-satunya agama yang diridai Allah SWT.

Disaksikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Selawu, Nana Rohana, ke-35 warga desa itu secara ikhlas meninggalkan keyakinan lama mereka. Selama bertahun-tahun, mereka menjadi pengikut aliran Ahmadiyah --sebuah keyakinan yang telah dinyatakan ulama di berbagai negara di dunia sebagai paham keagamaan yang sesat dan menyesatkan.

Seusai bersyahadat, dari wajah ke-35 warga desa yang terdiri atas 15 pria dan 20 wanita itu mengembang senyum penuh kebahagiaan. Dengan penuh kehangatan, mereka disambut warga dan jamaah masjid. Mereka pun bersalaman dan berpelukan erat. Semua umat muslim yang ada di sekitar masjid menyambut kembalinya saudara-saudara mereka pada keyakinan Islam yang sebenarnya.

Rona bahagia juga terpancar dari paras Eti Sukmawati (41 tahun). Warga Kampung Citeguh, Desa Tenjowaringin, Salawu, itu mengaku telah menganut ajaran Ahmadiyah sejak lahir. ''Saya memang menganut ajaran ini sejak kecil, tapi saya tidak mengerti banyak tentang ajaran ini,'' tutur Eti kepada Republika.

Selama menjadi pengikut Ahmadiyah, Eti mengaku hatinya selalu dibayangi kebimbangan. Dalam hati kecilnya, terselip sebuah ketidakpercayaan tentang sosok-sosok yang dijadikan panutan oleh jamaah Ahmadiyah. Sejak remaja, menurut Eti, dirinya tak bisa menerima sosok Mirza Ghulam Ahmad--figur yang diyakini pengikut Ahmadiyah sebagai nabi.

''Buat saya sosok itu tak lebih dari sebuah dongeng yang sering diceritakan orang tua sejak kecil,'' ujar Eti menegaskan. Perlahan namun pasti, Eti pun mulai meninggalkan ajaran yang diragukannya itu setelah dipersunting Sughandi (45 tahun) pada 1990. Meski belum secara resmi menyatakan keluar dari Ahmadiyah, ia mengaku mulai mengurangi dan meninggalkan ajaran itu.

Menurut Eti, suaminya sudah kembali ke ajaran Islam sejak lama. Beberapa bulan terakhir, tekadnya untuk meninggalkan Ahmadiyah kian membuncah. Dengan penuh keikhlasan dan tekad bulat, Jumat (17/4), ia pun bergabung dengan warga lainnya berikrar untuk memeluk agama Islam.

Kisah yang hampir sama juga terlontar dari Tariyan (49 tahun). Pegawai negeri sipil (PNS) yang mengajar di salah satu sekolah dasar negeri (SDN) di desa itu mengaku sejak kecil telah menjadi penganut Ahmadiyah. Menurut dia, keluarga besarnya yang terdiri atas sembilan kepala keluarga (KK) merupakan penganut ajaran Ahmadiyah yang berasal dari negeri Hindustan, India.

Ajaran itu, papar Tariyan, telah dianut keluarga besarnya sejak 1955. Sejak remaja, papar Tariyan, dia merasa janggal dengan ajaran Ahmadiyah yang diturunkan orang tuanya. Ia pun kerap melanggar dan menolak setiap perintah orang tuanya dalam melaksanakan ajaran Ahmadiyah.

Sikap serupa juga dilakukan anggota keluarga yang lain. Perlahan-lahan, penganut Ahmadiyah pun mulai berkurang. Kini, kata Tariyan, tinggal enam KK lagi yang masih bertahan menganut ajaran Ahmadiyah. Menurut dia, banyak tata cara ajaran Ahmadiyah yang janggal.

Selain itu, setiap penganut Ahmadiyah pun dibebani berbagai macam jenis iuran yang wajib dibayar kepada pengurus harian aliran itu. ''Ada sekitar 36 jenis iuran yang dibebankan kepada kami. Dan, itu harus dipatuhi jika tidak ingin kena masalah,'' tuturnya.

Wakil Ketua GP Anshor Kabupaten Tasikmalaya, Dudu Rachman, menyatakan, jumlah penganut ajaran Ahmadiyah di Kecamatan Salawu mencapai 3.500 orang. ''Hingga saat ini, sudah ada 33 KK yang telah berikrar kembali kepada agama Islam,'' ujar Dudu. Pihaknya berharap, jumlah warga yang kembali kepada ajaran Islam bisa terus bertambah.

Kecamatan Salawu yang berjarak 40 kilometer dari Kota Tasikmalaya, merupakan basis penganut Ahmadiyah di kabupaten itu. Di kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Garut di sebelah barat itu, terdapat Desa Tenjowaringin yang sejak masa kolonial Belanda dikenal sebagai pusat pertumbuhan dan perkembangan ajaran Ahmadiyah. (rpb/fani)

Kaum Muslimin di Somalia Ratakan Kuburan yang Tidak Sesuai dengan Syari'at Islam



ImageAlislamu.com -- Kaum muslimin di Kota Kismoyo di Selatan Somalia melakukan gotong royong untuk meratakan kuburan yang dianggap menyelisihi syari'at Islam. Kuburan itu diratakan hingga tingginya sama dengan tanah dan tidak lagi menyelisihi syari'at Islam.

Mayoritas kuburan yang diratakan itu adalah miliknya kaum Syi'ah Itsna 'Asyariyah. Kuburan mereka diratakan karena diatas kuburannya dibangun bangunan yang hal itu dianggap menyelisihi syari'at Islam dalam pembangunannya. Sedikitnya ada 94 kuburan milik mereka yang diratakan.

"Kebanyakan kuburan yang kami ratakan adalah miliknya kaum Syi'ah, karena kuburan mereka dibangun dengan cara-cara yang menyelisihi syari'at Islam," kata Syaikh Sa'id Abdullah sebagaimana dikutip oleh situs Aljazeera.

Diratakannya kuburan mereka, Selain karena menyelisihi syari'at Islam tapi juga karena dijadikan sebagai tempat meminta barokah dan banyak diantara mereka yang meletakkan air beberapa malam di kubur itu lalu mereka mengambilnya untuk dijadikan sebagai obat.

Selain meratakan kuburan yang di atasnya dibangun bangunan, kaum muslimin di kota itu juga memindahkan kuburan yang berada di dalam masjid bila kuburan itu ada setelah dibangunnya masjid. Tapi, bila kuburan itu dibangun terlebih dahulu daripada masjidnya, maka masjidnya yang mereka ratakan karena yang demikian itulah yang sesuai dengan tuntunan syari'at Islam.

"Kami juga mengeluarkan kuburan yang dibangun di dalam masjid, dan kami juga menghancurkan masjid yang dibangun di atas kuburan karena hal itu menyelisihi syari'at Islam," katanya.

Perataan kubur dan memindahkan kuburan yang ada di dalam masjid itu untuk mencegah terjadinya perbuatan syirik yang dilakukan oleh masyarakat awam, karena pada hakekatnya orang yang telah mati tidak dapat memberi manfaat ataupun sebaliknya. (aljz/alm/fani)

Rabu, 15 April 2009

Seorang Profesor Asal Prancis Masuk Islam di Arab Saudi

Seorang profesor dan dokter specialis penyakit jiwa asal Prancis, Prof. Dr. Roland Dar Denis, mengumumkan keislamannya di sela-sela keikutsertaannya pada acara Konferensi Internasional ketiga yang diadakan oleh Pangeran Sultan bin Salman bin Abdul Aziz di Arab Saudi, sebagaimana diberitakan oleh situs Islammemo, Selasa (14/4).

Masuk Islamnya Prof. Dr. Roland disambut dengan senang hati oleh Pangeran Sultan bin Salman. Dalam sambutannya itu, pangeran mengenalkan sedikit tentang ajaran Islam kepada Prof. Dr. Roland. Ia menjelaskan, Islam adalah agama fitrah dan petunjuk serta membawa keselamatan bagi hambanya yang shaleh. Selain itu, Islam juga memberikan kedudukan yang mulia bagi hambanya yang bertaqwa.

"Sesungguhnya Islam adalah agama fitrah dan petunjuk. Kami sebagai kaum muslimin merasakan kebahagiaan dan ketentraman dalam Islam, Islam juga memerintahkan kepada perkara-perkara yang mulia. Islam adalah risalah yang nyata bagi kaum muslimin dan di dalamnya diajarkan jihad yang nyata, jihad dalam ilmu, beramal, dan memberi manfaat bagi manusia lainnya," katanya.

Setelah mendapat sambutan yang cukup baik dari Sultan, Dr. Roland mengucapkan kalimat syukur kepada Allah karena Ia telah memudahkannya untuk masuk ke dalam agama Islam yang benar. Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Sultan yang telah memperhatikannya dan mengajarkan sedikit tentang ajaran Islam.

Tak lama setelah acara Konferensi Internasional selesai, Prof. Dr. Roland bergegas melakukan ibadah umrah di Makkah untuk yang pertama kalinya setelah ia masuk Islam.

Senin, 13 April 2009

Dibalik Kunjungan Dadakan Obama ke Irak

ImagePresiden AS, Barack Obama kemarin (Selasa, 7/4) melakukan kunjungan dadakan ke Baghdad, ibu kota Irak. Sejumlah media di AS menulis,

kunjungan Obama itu selain ditujukan untuk bertemu para komandan dan serdadu AS, juga mengadakan pembicaraan singkat dengan para pemimpin Irak.

Meski kedatangan itu disebut sebagai kunjungan mendadak, namun rencana kunjungannya ke Irak dapat diprediksikan jauh sebelumnya jika memperhatikan slogan dan janji-janji yang dilontarkan Obama semasa kampanye. Pada waktu itu, Obama menjadikan transformasi Irak sebagai isu utama kampanyenya.

Selama kampanye pilpres AS, Obama melakukan manuver-manuver politik terkait krisis di Irak khususnya penarikan pasukan AS dari negara itu dalam jangka waktu 16 bulan. Manuver ini tergolong sukses dan mampu menaikkan popularitasnya hingga mengungguli rivalnya dari Kubu Republik.

Rencana penarikan pasukan AS dalam jangka waktu 16 bulan mendapat penentangan keras dari para politikus dan jenderal Pentagon. Akhirnya, Obama terpaksa mengubah keputusannya itu dan menyatakan akan menarik 140 ribu serdadunya dari Irak hingga Agustus 2010. Sedangkan sisanya akan tetap dipertahankan hingga akhir 2011 sesuai dengan Pakta Keamanan Washington-Baghdad.

Beberapa waktu lalu, Irak khususnya Baghdad didera oleh berbagai ledakan dan aksi teror setelah Obama mengumumkan strategi barunya soal penarikan bertahap serdadu AS dari sejumlah kota-kota Irak. Seiring dengan peristiwa itu, sejumlah pejabat politik dan militer Washington memperingatkan kemungkinan terciptanya kembali instabilitas dan kekerasan di Negeri 1001 itu.

Para analis menilai peringatan itu sebagai upaya untuk mempengaruhi Obama agar meninjau ulang keputusannya terkait pengurangan jumlah pasukan di Irak. Dalam kunjungan perdana ke Irak, Obama sepertinya ingin melihat dari dekat perkembangan di kawasan sekaligus mendengar masukan dan keterangan para komandan militer AS yang bertugas di sana.

Obama juga ingin menunjukkan bahwa penyelesaian krisis Irak sebagai prioritas kerjanya.

Di Irak sendiri, harapan akan perubahan versi Obama semakin memudar khususnya terkait peningkatan tekanan AS terhadap Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki yang bertujuan mengembalikan anasir Partai Baath ke kancah politik Irak.

Kemungkinan besar, strategi utama Obama bertujuan mengisi kekosongan akibat pengurangan jumlah pasukan di Irak. Kekosongan itu harus disisi dengan mempersiapkan peluang kembalinya anasir Partai Baath ke tampuk kekuasaan lewat pemilu mendatang parlemen Irak. Strategi ini bermaksud memenangkan kubu sekuler yang pro-AS./

Minggu, 05 April 2009

Waspadai Dendeng/Abon Sapi mengandung Babi


Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dinas Peternakan Jawa Barat mengimbau masyarakat konsumen umum di Kota Bandung dan Kota Bogor, agar berhati-hati dalam membeli produk dendeng/abon. Imbauan itu dilontarkan terkait ditemukannya beberapa merek dendeng/abon, yang berdasarkan pengujian laboratorium ditemukan kandungan daging babi namun mencantumkan label halal pada kemasannya.

Demikian dikemukakan Kepala Dinas Peternakan Jabar H. Koesmayadie, didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan-Kesmavet, Nana M. Adnan, di Bandung, Selasa (24/3).

Koesmayadie mengatakan, ditemukannya produk dendeng/abon mengandung daging babi, setelah melalui pengujian rutin oleh Balai Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesmavet (BPPHK) Cikole, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat.

Di Bandung mereka mengambil 31 sampel bakso sapi dan 15 sampel dendeng sapi dari Pasar Baru, Pasar Andir, Pasar Ujungberung, Pasar Antapani, Pasar Cicaheum, Pasar Cicadas, Pasar Kosambi, dan Pasar Basalamah. Di Bogor diambil 17 sampel bakso sapi dan 4 sampel dendeng sapi dari Pasar Balekambang, Pasar Anyar, dan Pasar Bogor, masing-masing pada 11 dan 26 Februari 2009 lalu.

Dari hasil pemeriksaan, menurut Koesmayadie, ditemukan adanya daging babi pada produk dendeng/abon yang diedarkan oleh penjual di pasar tradisional. Lain halnya bakso sapi, sejauh ini belum terbukti adanya penggunaan campuran daging babi.

�Kendati ditemukan adanya merek-merek dendeng/abon tertentu yang menggunakan bahan daging babi, masyarakat konsumen umum tak perlu panik dan tinggal berhati-hati dalam menentukan pilihan produk yang akan dibeli. Kami juga terus memantau sejauh mana peredaran dendeng/abon yang berbahan daging babi di Jabar, demi kenyamanan dan keamanan para konsumen umum,� kata Koesmayadi.

Mereka menyebutkan, produk dendeng/abon yang sudah terbukti menggunakan bahan daging babi, mereknya berinisial CKS No. SP:0094/13.06/92 dan dendeng berinisial CPM No. SP:030/1130/94, di mana pencantuman Halal pun tak sesuai dengan prosedur.

Selama ini, nomor SP berangka 92 dan 94 diketahui berasal dari Jawa Tengah, namun oleh tim penguji merek CKS ditemukan di Pasar Kosambi dan Pasar Basalamah Bandung, sedangkan merek CPM diambil dari Pasar Anyar Bogor.

Menurut Koesmayadie, pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mengedarkan produk dendeng/abon sapi campuran daging babi, dapat mengganggu ketenteraman batin manusia, terutama umat Islam di Jabar. Padahal, Pemprov Jabar melalui Dinas Peternakan Jabar sejak lama selalu menyosialisasikan moto HAUS (Halal, Aman, Utuh, dan Sehat) bagi produk-produk konsumsi berbahan baku hewani serta memasyarakatkan usaha peternakan secara islami bekerja sama dengan MUI.

Jika hanya dilihat dari kepentingan ekonomi, produsennya diduga bertujuan mengambil keuntungan lebih besar dengan mengambil bahan campuran daging babi. Selama ini, bahan yang sering digunakan terutama babi hutan alias bagong, karena harganya jauh lebih murah.

Koesmayadie mengakui, sejumlah kalangan di Dinas Peternakan Jabar mengetahui adanya kebiasaan sejumlah pehobi berburu bagong, yang menjual daging hasil buruannya kepada pembuat dendeng/abon untuk pangsa pasar non-Muslim.

Koesmayadie mempertanyakan motif penjualan produk dendeng/abon yang mengandung daging babi, tetapi dikemas dengan mencatumkan daging sapi dan tulisan halal yang dijual ke pasaran umum. Bahkan, produk ini juga ditemukan di beberapa swalayan dengan harga cukup murah.

Secara terpisah, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LP POM) MUI Jabar, Prof. Dr. H.A. Surjadi, M.A. mengatakan, produk/merek dendeng/abon merek CPS dan CPM sampai kini belum mendapat sertifikat halal dari MUI. Bahkan, tulisan Halal yang mereka cantumkan dalam kemasan tersebut dibuat oleh perusahaan sendiri secara sepihak.

�Kami juga mendesak pedagang yang menjual merek bersangkutan, agar segera menarik produk tersebut dari peredaran dan tak menjual lagi stok yang ada. Kami juga mengimbau agar konsumen Muslim selalu berhati-hati dan cermat saat berbelanja, dan menyampaikan terima kasih kepada BPPHK Cikole atas laporan hasil pengujian oleh mereka,� katanya. (PR/halalguide)