Senin, 13 April 2009

Dibalik Kunjungan Dadakan Obama ke Irak

ImagePresiden AS, Barack Obama kemarin (Selasa, 7/4) melakukan kunjungan dadakan ke Baghdad, ibu kota Irak. Sejumlah media di AS menulis,

kunjungan Obama itu selain ditujukan untuk bertemu para komandan dan serdadu AS, juga mengadakan pembicaraan singkat dengan para pemimpin Irak.

Meski kedatangan itu disebut sebagai kunjungan mendadak, namun rencana kunjungannya ke Irak dapat diprediksikan jauh sebelumnya jika memperhatikan slogan dan janji-janji yang dilontarkan Obama semasa kampanye. Pada waktu itu, Obama menjadikan transformasi Irak sebagai isu utama kampanyenya.

Selama kampanye pilpres AS, Obama melakukan manuver-manuver politik terkait krisis di Irak khususnya penarikan pasukan AS dari negara itu dalam jangka waktu 16 bulan. Manuver ini tergolong sukses dan mampu menaikkan popularitasnya hingga mengungguli rivalnya dari Kubu Republik.

Rencana penarikan pasukan AS dalam jangka waktu 16 bulan mendapat penentangan keras dari para politikus dan jenderal Pentagon. Akhirnya, Obama terpaksa mengubah keputusannya itu dan menyatakan akan menarik 140 ribu serdadunya dari Irak hingga Agustus 2010. Sedangkan sisanya akan tetap dipertahankan hingga akhir 2011 sesuai dengan Pakta Keamanan Washington-Baghdad.

Beberapa waktu lalu, Irak khususnya Baghdad didera oleh berbagai ledakan dan aksi teror setelah Obama mengumumkan strategi barunya soal penarikan bertahap serdadu AS dari sejumlah kota-kota Irak. Seiring dengan peristiwa itu, sejumlah pejabat politik dan militer Washington memperingatkan kemungkinan terciptanya kembali instabilitas dan kekerasan di Negeri 1001 itu.

Para analis menilai peringatan itu sebagai upaya untuk mempengaruhi Obama agar meninjau ulang keputusannya terkait pengurangan jumlah pasukan di Irak. Dalam kunjungan perdana ke Irak, Obama sepertinya ingin melihat dari dekat perkembangan di kawasan sekaligus mendengar masukan dan keterangan para komandan militer AS yang bertugas di sana.

Obama juga ingin menunjukkan bahwa penyelesaian krisis Irak sebagai prioritas kerjanya.

Di Irak sendiri, harapan akan perubahan versi Obama semakin memudar khususnya terkait peningkatan tekanan AS terhadap Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki yang bertujuan mengembalikan anasir Partai Baath ke kancah politik Irak.

Kemungkinan besar, strategi utama Obama bertujuan mengisi kekosongan akibat pengurangan jumlah pasukan di Irak. Kekosongan itu harus disisi dengan mempersiapkan peluang kembalinya anasir Partai Baath ke tampuk kekuasaan lewat pemilu mendatang parlemen Irak. Strategi ini bermaksud memenangkan kubu sekuler yang pro-AS./

Tidak ada komentar:

Posting Komentar