Kamis, 22 Januari 2009

Industri Senjata Pesta Pora


Invasi militer Israel ke jalur Gaza dengan alasan menghabisi Hamas tidak dibenarkan secara hukum.Tetapi invasi itu "dibenarkan" oleh para industriawan senjata dunia. Apa sebab ? mereka dapat menjual senjata kepada kedua belah pihak.

Sehingga industri senjata yang sudah aus dapat diperbaharui kembali. Dampak positifnya, industri-industri di negara-negara besar akan bergerak kembali. Lanjutannya, krisis ekonomi global akan kembali pulih dalam beberapa dekade kedepan.

Januari ini AS berencana mengirim ratusan ton senjata ke Israel melalui Yunani (berita Antara, 10 Januari). Bahkan Reuter juga menyebutkan Komando Militer Angkutan AL AS (MSC) sedang mencari kapal yang akan membawa 325 kontainer standar 20 kaki dengan muatan amunisi, tentu saja ke Israel.

Tender itu menyusul penyewaan sebuah kapal pada bulan Desember yang membawa lebih banyak lagi muatan militer dari Amerika Serikat ke Israel. Pengiriman itu dilakukan menjelang serangan udara ke Jalur Gaza.

Kapal yang dicarter selama 42 hari itu mampu mengangkut 989 kontainer standar 20 kaki dari Sunny Point, North Carolina ke pelabuhan Ashdod di Israel.

Dokumen tender mengatakan kapal itu harus mampu membawa 2,6 juta kg bahan peledak dan para makelar mengatakan jumlah itu adalah sangat besar.Kapal yang dicarter mengangkut muatan tersebut pada 15 Desember.

AS telah memasok persenjataan ke Tel Aviv satu bulan sebelum penyerangan tentara Israel ke Jalur Gaza. Pengiriman persenjataan itu tidal langsung dari Washington, tetapi dibawa melalui pelabuhan Yunani Astakos ke pelabuhan Israel Ashdod antara pertengahan hingga akhir Januari

Bahkan menurut kantor berita Reuter (10 Januari) menyebutkan, pada bulan September tahun lalu, Kongres Amerika Serikat menyetujui penjualan 1000 Rudal penghancur bunker ke Israel. Rudal GBU-39 dengan dipandu GPS disebut-sebut salah satu bom paling akurat di dunia.

Persenjataan itu sekarang telah berhasil membongkar bunker-bunker persembunyian yang dituduh Israel sebagai tempat persembunyian gerilyawan Hamas.

Pengalaman perang masa lalu di Timur Tengah, krisis Timur-Tengah baik itu perang Iran vs Iraq, maupun penyerangan tentara Saddam Husein ke wilayah Quwait, ternyata telah menguntungkan para produsen senjata dunia terutama berbasis di AS dan Eropa.

Industri senjata AS dan Eropa, yang terancam bangkrut setelah berakhir Perang Dingin, akhirnya bangkit kembali karena mendapat pasar utama baru di Timur Tengah. Krisis Timur-Tengah dan Perang Teluk telah menjadi momentum penting yang dapat menyelamatkan industri persenjataan AS dan negara-negara Eropa.

Jutaan orang yang bekerja di sektor persenjataan di berbagai negara Barat terancam pengangguran setelah Perang Dingin berakhir menjelang akhir tahun 1989. Entah apa yang terjadi, sekitar setengah tahun kemudian Irak melakukan invasi ke Kuwait.

Kasus invasi Iraq ke wilayah Quweit, 2 Agustus 1990 menjadi awal krisis dan Perang Teluk. Krisis kemudian berlangsung 210 hari termasuk pertempuran sengit selama 42 hari. AS bersama 27 anggota pasukan koalisi lainnya dianggap berjasa dalam mengakhiri pendudukan pasukan Irak di Kuwait.

Setelah itu AS dan sejumlah negara Barat justru memetik keuntungan dari penjualan senjata sebagai bisnis menggiurkan. Hingga saat ini, AS dan negara-negara sekutunya terus menjual senjata ke Kuwait, Arab Saudi dan beberapa negara Teluk Persia, tentu saja ke Israel.
Penyerangan Israel ke Jalur Gaza tidak lepas dari kepentingan perdagangan senjata tingkat tinggi.

Para industriawan senjata baik di Amerika Serikat atau Eropa Barat dan Timur tentu saja akan berpesta pora menyambut serbuan Israel ke Jalur Gaza di Palestina. Mereka akan mendapat keuntungan besar dari perang Israel-Hamas seperti terjadi pada saat Saddam Husein menyerbu wilayah kuweit.(brt8/sbl)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar